Selasa, 12 Desember 2017

Penemuan Light Emitting Diode (LED)

View Article
Gambar Led BiruPenemuan yang menghantarkan tiga ilmuwan itu meraih nobel adalah Light Emitting Diode (LED)

biru yang merupakan sumber cahaya baru. Dengan LED biru, cahaya putih bisa diciptakan dengan cara baru yang lebih hemat energi.

Dilansir dari situs Penghargaan Nobel, panitia nobel menyatakan bahwa inovasi LED biru ini "memicu transformasi fundamental dalam teknologi penerangan." Diode merah dan hijau sudah ada sejak lama tapi tanpa LED biru, cahaya putih tak bisa tercipta.

Panitia nobel menyatakan, "Mereka sukses ketika yang lainnya gagal, Temuan mereka revolusioner. Lampu pijar menerangi kita pada abad ke-20, abad ke-21 diterangi oleh LED."

Lewat riset terpisah Akasaki, Amano, dan Nakamura menemukan LED biru pada awal era 1990-an. Inovasi mereka terus disempurnakan sehingga menghasilkan lampu LED yang kini makin efisien.

Versi terbaru lampu dengan teknologi LED biru saat ini mampu menghasilkan penerangan 300 luminasi/Watt. Terang yang dihasilkan oleh lampu itu setara dengan 16 lampu pijar dan 70 lampu fluorensens.

Dengan seperempat konsumsi listrik dunia bertujuan untuk memenuhi kebutuhan penerangan, maka inovasi ketiga penerima nobel ini berguna untuk menghemat sumber energi yang dipakai untuk membangkitkan listrik.

Konsumsi material untuk lampu LED biru juga lebih sedikit. Sebabnya, lampu LED biru bisa bertahan hingga 100.000 jam sementara lampu pijar hanya 1.000 jam dan lampu fluorensens 10.000 jam.

Lampu LED biru memberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup 1,5 juta orang di dunia yang hingga kini belum terjangkau penerangan. Mereka kini bisa memanfaatkan solar panel mini dengan produksi listrik kecil untuk menerangi lingkungannya. (Sumber: Kompas.com)

Ilmuwan yang meraih Nobel tersebut adalah:
  • Isamu Akasaki dari Nagoya University
  • Hiroshi Amano dari Nagoya University
  • Shuji Nakamura dari University of California di Santa Barbara. 
Ketiga ilmuwan itu diberikan Penghargaan Nobel Fisika di Stockholm pada Selasa (7/10/2014) pukul 16.45 WIB.

Exoplanet

View Article
Gambar GliseBadan Antariksa Amerika Serikat atau NASA mengumumkan penemuan Tujuh Exoplanet baru
seukuran Bumi. Tiga di antaranya layak huni bagi manusia. Keberadaan Exoplanet ini tertangkap oleh Teleskop Spitzer milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa AS (NASA). Alat tersebut berhasil meneropong keberadaan tujuh planet seukuran Bumi yang berada di luar lingkup tata surya (eksoplanet).

Exoplanet adalah planet di luar Tata Surya, kebanyakan dari planet yang telah ditemukan tersebut adalah planet raksasa besar seperti Yupiter, bukan planet kecil yang padat dikarenakan keterbatasan dalam teknologi deteksi.

Namun kali ini NASA mengungkapkan 7 Planet Luar surya tersebut mirip bumi yang layak huni. Temuan itu dibeberkan NASA dalam konferensi pers khusus di Washington, DC, yang disiarkan langsung melalui Facebook, Kamis (23/2/2017) dini hari WIB.

Menurut NASA, lingkaran exoplanet Trappist-1 (bintang tunggal) tersebut terletak hanya 39 tahun cahaya dari Bumi. Temuan ini menjadi rekor baru untuk kategori jumlah temuan planet yang layak huni di luar sistem tata surya selama ini.

Ketujuh planet eksoplanet dimaksud mengorbit sebuah bintang kurcaci merah yang disebut sebagai Trappist-1, singkatan dari Transiting Planets and Planetesimal Small Telescope, nama teleskop observatorium di Cile yang ikut berkontribusi dalam penemuan.

Tiga di antara ketujuh eksoplanet mirip Bumi itu memiliki orbit dalam zona layak huni sehingga kemungkinan memiliki air dalam bentuk cair, salah satu komponen terpenting dalam menyokong kehidupan.

Menurut NASA, penemuan ini merupakan Rekor baru, penemuan ini bisa menjadi bagian penting dalam teka-teki untuk menemukan lingkungan layak huni, tempat-tempat yang kondusif untuk kehidupan. Untuk pertama kalinya di zona layak huni merupakan langkah luar biasa maju untuk menuju tujuan itu.

Para ilmuwan NASA mengatakan bahwa keberadaan air belum dikonfirmasi pada salah satu planet yang baru ditemukan. Namun, NASA mengklaim tiga dari tujuh planet baru tersebut layak huni.

Bintang Trappist-1 sendiri berjarak "hanya" 40 tahun cahaya atau sekitar 378 triliun kilometer dari Bumi sehingga relatif dekat dibanding bintang-bintang lain dalam galaksi Bima Sakti.

Tiga dari tujuh eksoplanet yang bersangkutan mengorbit dalam jarak terlalu dekat dengan bintang sehingga kemungkinan terlalu panas untuk bisa memiliki air. Sementara itu, planet ketujuh terlalu jauh sehingga air bisa membeku.

Temperatur planet keempat, kelima, dan keenam diperkirakan ideal untuk kehidupan. Kalau ketiganya turut memiliki atmosfer serupa Bumi, maka bisa jadi di permukaannya terdapat lautan, danau, dan sungai yang diketahui sebagai tempat bermulanya kehidupan.

Sumber:

http://tekno.kompas.com/read/2017/02/23/10055597/google.doodle.rayakan.penemuan.exoplanet.planet.serupa.bumi
https://international.sindonews.com/read/1182508/42/nasa-temukan-7-planet-baru-seukuran-bumi-3-layak-huni-1487791385

Penemuan jejak kaki dinosaurus

View Article
Gambar jeejak_kaki_diniosaurus_australiaDi daerah Barat Laut Australia, tepatnya  di dataran Cretaceous Broome Sandstone, area Waldamany,

Semenanjung Dampier, daerah Barat Australia. telah ditemukan jejak kaki dinosaurus terbesar berukuran 5 kaki 9 inci (1,75 meter). Menurut peneliti, jejak kaki tersebut adalah jejak kaki dari Sauropod, dinosaurus herbivora berleher panjang. Sebelumnya, pada bulan Juli lalu di Bolivia ditemukan jejek kaki sepanjang 1,15 meter (hampir 3 kaki 9 inchi). Penemuan tersebut merupakan penemuan jejak kaki dinosaurus karnivora yang terpanjang.

"Jejak kaki raksasa tersebut sangat spektakuler, belum ada yang mendekati (dalam hal ukuran)," ujar Peneliti dari Universitas Queensland Professor Steve Salisbury seperti dikutip dari CNN, Selasa (28/3/2017).

Sauropod yang meninggalkan jejak tersebut diperkirakan berukuran 5,4 meter (17 kaki 9 inci) diukur dari kaki hingga pinggulnya. Dari bebatuan yang diteliti di sekitar lokasi, jejak dinosaurus itu diprediksi berusia 127 juta hingga 144 juta tahun, lebih tua dari fosil dinosaurus yang pernah ditemukan di Australia sebelumnya.

Menurut data dari Universitas Queensland, dua puluh satu jejak ditemukan di sepanjang Semenanjung Dampier merupakan penemuan yang tidak terduga dengan hamparan batu yang juga berusia mencapai 140 juta tahun.

Professor Salisbury mengatakan kondisi di Semenanjung Dampier sangat ideal dengan lingkungan hidup dinosaurus. Karenanya, penemuan tersebut sangat mengagumkan. Salisbury bersama timnya telah melakukan penelitian selama lima tahun di area tersebut.

"Penemuan ini adalah penemuan yang paling beragam dari semua jejak dinosaurus yang pernah ditemukan. Jika kita kembali ke 130 juta tahun lalu, kita pasti akan bisa melihat seluruh jenis dinosaurus yang berbeda berjalan di sepanjang garis pantai. Ini merupakan tempat asal mereka," kata Salisbury yang juga telah memastikan adanya bukti Stegosaurus yang pernah hidup di Australia.

Observatorium Ulugh Begh

View Article
Gambar Observatorium Ulugh BeghUlugh Beg (Bahasa Persia: میرزا محمد طارق بن شاہرخ الغ‌بیگ‎ – Mīrzā Muhammad Tāraghay bin
Shāhrukh Uluġ Beg) adalah Sultan Khorasan, ahli astronomi dan metematika. Ulugh Beg dilahirkan di Soltaniyah, Iran pada tahun 1394 dan meninggal pada tahun 1449 di Samarkand, Uzbekistan. Untuk menghormati pencapaian sang sultan dalam astronomi, pada 1830 sebuah kawah di Bulan dinamai ìUlugh Beighî oleh astronom Jerman Johann Heinrich von Madler pada peta Bulan buatannya.

Awal Kehidupan

Ulugh Begh, yang berarti ”Penguasa Agung”, pada masanya selain dikenal sebagai raja atau sultan penebar kasih dan perdamaian di Asia Tengah, ia pun menguasai ilmu astronomi dan matematika. Salah satu hasil karyanya yang brilian adalah ilmu trigonometri dan geometri bentuk bola.

Lahir di Sultaniyeh, Persia (kini Iran) pada tahun 1394, dengan nama Mirza Mohammad Taregh bin Shahrukh. Dia adalah cucu dari Amir Timur atau yang lebih dikenal sebagai Timur Leng, sang penakluk dan pendiri kekaisaran Timurid di Asia Tengah. Mirza Ulugh Begh adalah anak tertua dari Shah Rukh, mereka berasal dari suku Mongol Barlas dari Transoxiana (kini Uzbekistan). Sedangkan ibunya seorang bangsawan Goharshad dari Persia.

Semasa anak-anak, Mirza mengembara ke tempat-tempat penting di Timur Tengah dan India bersama kakeknya, Amir Timur, ketika memperluas kekuasaannya di wilayah tersebut. Sepeninggal kakeknya, Mirza kecil menetap di Samarkand yang pada waktu itu menjadi ibukota kerajaan Timurid.

Pada usia 16 tahun, Mirza Mohammad sudah menjadi gubernur di Samarkand (1409). Bahkan pada tahun 1411 ia menjadi penguasa penuh seluruh Mavarannahr (kini Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Kazakhstan).

Sang penguasa berusia remaja ini berhasil mengubah kota Samarkand, menjadi sebuah pusat intelektual bagi kerajaan. Pada 1417-1420 ia pun membangun madrasah (universitas) yang hingga kini masih berdiri megah di Registan Square, Samarkand, Uzbekistan. Kala itu madrasah ini ramai dikunjungi para astronom dan matematikawan Islam untuk belajar. Salah seorang hasil didikan Ulugh Begh adalah Ghiyath al-Kashi, seorang ahli matematika terkemuka.

Selain matematika, astronomi adalah ilmu yang paling menarik minat sang sultan, dan kecintaannya dibuktikan pada tahun 1420, dengan mendirikan sebuah observatorium kolosal, yang ia namai Gurkhani Zij, sebuah observatorium mirip Uraniborg buatan Tycho Brahe. Gurkhani berbentuk busur seperempat lingkaran (kuadran) berukuran raksasa yang melengkung dari ruang bawah tanah hingga menonjol di permukaan tanah.

Sumbangan Ulugh Beg

Sesuai dengan minatnya yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan, dia bangun kota tersebut menjadi sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan muslim. Sampai sekarang bangunan-bangunan dan monumen-monumen peninggalan Ulugh Beg dapat kita lihat di kota Samarkand. Di sanalah ia menulis lirik-lirik syair, buku-buku sejarah dan mengkaji Qur’an. Meskipun demikian, astronomi dan matematika merupakan bidang utama yang sangat menarik perhatiannya. Ia turun tangan secara langsung melakukan kajian dan pengamatan tentang bintang-bintang. Pada tahun 1420 ia membangun sebuah observatorium di Samarkand untuk mengobservasi planet-planet dan bintang-bintang.

Di observatorium inilah Ulugh Beg dan timnya mewujudkan cinta mereka pada Tuhan dengan sungguh-sungguh bekerja dan beribadah. Dari hasil observasi itu mereka menyiapkan tabel-tabel astronomi matahari, bulan dan planet-planet lain yang telah diamati dengan tingkat kecermatan tinggi, yang akurasinya tidak terlalu jauh berbeda dengan hasil pengamatan astronom modern yang menggunakan berbagai teleskop yang canggih. Dari hasil pengamatan dan perhitungannya ia dan timnya juga mengoreksi perhitungan yang pernah diperbuat astronom-astronom Romawi seperti Ptolemeus. Hasil-hasil observasi mereka terhimpun antara lain dalam kitab “Zij-i- Djadid-iSultani”

Selain itu masih banyak kitab-kitab lain yang mereka tulis dalam bahasa Arab. Beberapa hasil karya mereka diterjemahkan oleh astronom-astronom Inggris dan Perancis beberapa ratus tahun kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa hasil observasi dan perhitungan mereka sangat canggih untuk ukuran zaman itu sehingga datanya masih sangat berguna ratusan tahun kemudian.

Bangunan observatorium Ulugh Beg di Samarkand berwujud sebagai peralatan raksasa yang dirancang sedemikian rupa untuk mengamati bintang-bintang di satu lokasi yang tetap di cakrawala. Interiornya berupa sebuah terowongan batu yang cukup lebar dan panjang di mana pangkalnya berada di bawah tanah dan berujung pada alam terbuka beratapkan langit. Di dalamnya dilengkapi dengan 2 (dua) jeruji batu yang ditempatkan pada posisi tepat sehingga memberi hasil yang maksimal dalam menghitung ketinggian jarak bintang-bintang yang diamati secara cermat.

Observatorium Ulugh Beg di Samarkand yang dibangun atas dasar ilmu ilham yang dianugerahkan Tuhan terbukti sangat canggih untuk ukuran zaman itu, sehingga peralatan seperti ini masih ditiru dan digunakan oleh astronom-astronom Eropa lebih 100 tahun kemudian, diantaranya observatorium Uraniborg (1576) dan observatorium Stierneborg (1584). Tidak hanya dari segi penampilan fisik dan arsitekturnya yang mencontohi observatorium Ulugh Beg melainkan juga dari sisi kualitas dan kuantitas peralatan dan bahkan sampai manajemen operasinya.

Penemun observatorium peninggalan abad ke-15

Tahun 1908, di bawah reruntuhan kota kuno Afrasiyab, Samarkand, Vladimir Viyatkin, seorang arkeolog asal Rusia, terkesima menatap sebuah bentuk bangunan aneh menjulang di hadapannya. Dari hasil penggaliannya itu, akhirnya ia dapat mengenali bangunan itu sebagai sextant atau kuadran berukuran raksasa. Arkeolog amatir itu akhirnya sadar bahwa ia sedang berada di sebuah observatorium peninggalan abad ke-15.

Puing-puing sisa observatorium Islam paling awal ini, adalah salah satu bukti kecintaan seorang raja pada ilmu pengetahuan khususnya ilmu astronomi. Observatorium luar biasa ini dibangun pada tahun 1420 oleh seorang penguasa Timurid bernama Ulugh Begh.

Kesaksian

Sejatinya observatorium pertama di dunia dibangun oleh seorang astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang digagas oleh Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana muslim pun kemudian bekerja sama dalam membangun observatorium yang lebih modern pada zamannya. Sejumlah astronom muslim yang dipimpin Nasir al-Din al-Thusi pun akirnya berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku yang mencapai 400 ribu judul.

Seorang ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas, dalam tulisannya berjudul 'The Legacy of Ulugh Beg' mengungkapkan bahwa observatorium termegah yang pernah dibangun oleh para sarjana muslim adalah observatorium Ulugh Beg. Observatorium itu dibangun oleh seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand yang bernama lengkap Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian tinggi terhadap ilmu astronomi dan juga ilmu pengetahuan.

Sumber:

- http://id.wikipedia.org/wiki/Ulugh_Beg
- http://en.wikipedia.org/wiki/Ulugh_Beg
- http://www.zulfanafdhilla.com/2013/04/biografi-ululgh-begh-ahli-ilmu-falak.html
- http://www.bukukerja.com/2013/07/ilmuwan-ulugh-beg-pembangun.html

K.H. Fahmi Basya-Penerapan Matematika Islam

View Article
Gambar Fahmi BasyaFahmi Basya adalah seorang pengajar Matematika Islam di Universitas Islam Negeri Jakarta. Ia
dikenal sebagai penemu bidang ilmu Matematika Islam yang ia teliti sejak tahun 1972. Fahmi Basya merupakan alumnus FMIPA Universitas Indonesia.

Matematika Islam

Matematika Islam merupakan suatu metode membedah keajaiban Al-Qur'an dari sisi keilmuan matematika yang ditemukan oleh KH Fahmi Basya.

K.H. Fahmi Basya melakukan penelitian mengenai Al-Qu'ran sejak tahun 1972 dan baru ia rumuskan pada tahun 1982.

Pada awalnya, Fahmi mengemukakan ide Matematika Islam melalui berbagai selebaran, seminar, dan stadium general. Pada tahun 2002, idenya dipakai sebagai salah satu mata kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Selanjutnya, ia diminta sebagai penceramah untuk mengenalkan konsep Matematika Islam di sebuah stasiun televisi swasta.

Menurut K.H. Fahmi Basya, Matematika Islam ialah Matematika yang menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi sebagai postulat. (postulat /pos·tu·lat/ n = asumsi yg menjadi pangkal dalil yg dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma)

Penerapan Matematika Islam

Dalam Matematika Islam, seseorang tidak lagi perlu membuktikan suatu data yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, sekalipun nanti dalam perjalanannya, Matematika Islam seolah membuktikan kebenaran sunnah-sunnah Nabi.

Data bilangan dari AlQuran dan Nabi diolah dan dibuat model matematikanya, seperti: Pilar Al-Quran, Permata Shalat, Roda Gigi Sholat, dan lain-lain.

Angka 19

Dalam sebuah seminar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Fahmi memberikan gambaran bahwa sesungguhnya di dalam Al-Quran terkandung rahasia-rahasia yang harus dipikirkan oleh umat manusia, salah satunya adalah rahasia angka dalam Al-Quran. Ia menjelaskan bahwa angka yang paling sering banyak muncul di dalam Al-Quran adalah angka 19, yang didapat dari berbagai perhitungan, misalnya adalah jumlah dari bacaan basmalah yang berjumlah 19 huruf. Dari kesimpulannya, angka 19 adalah sebuah aksioma dalam Al-Quran.

Rahasia gerakan sholat

Berdasarkan Matematika Islam, Fahmi Basya memperlihatkan hubungan antara gerakan sholat gerhana dengan posisi gerhana. Dari sana didapatkan bahwa ruku dapat didefinisikan sebagai gerakan 90 derajat. Jika ruku adalah 90 derajat, sujud adalah 135 derajat, dan berdiri tegak adalah nol derajat, dalam satu rakaat seseorang telah menyelesaikan satu putaran penuh atau 360 derajat. Selain itu, bacaan takbir yang diucapkan pada 29 kali shalat tarawih dan witir ditambah sholat Ied maka akan ditemukan bilangan 1786, yang jika dibagi 19 adalah 94. Angka 94 juga menjadi jumlah kalimat takbir dalam lima kali sholat dalam sehari. Bagi Fahmi, riset yang mendalam terhadap fenomena-fenomena menarik ini akan dapat memperkuat rasa iman kepada Allah.

Kontroversi

Candi Borobudur

Dalam buku "Matematika Islam 3", KH Fahmi Basya menyatakan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman di tanah Jawa. Ia menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan Nabi Sulaiman, seperti hutan atau negeri Saba, makna Saba, nama Sulaiman, buah maja yang pahit, dipindahkannya kekuasaan Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lain-lain. Melalui hitungan matematika Islam dan Sain Alquran yang dipahaminya, KH Fahmi Basya memaparkan 40 fakta-fakta eksak daya jelajah para Nabi yang ternyata sampai ke Nusantara.

Nabi Sulaiman memerintahkan untuk membentuk gedung besar dan patung-patung. Patung-patung yang beribu-ribu jumlahnya adalah Candi Borobudur, sedangkan bangunan yang besar-besar adalah Candi Prambanan. Saba di Indonesia adalah Wonosobo. Dalam Al-Qur’an, Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan burung Hud-Hud mengirim surat ke Ratu Saba, kediamannya di Candi Ratu Boko, yaitu 36 kilometer dari Borobudur. Surat itu berupa pelat emas dan pernah ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko. Namun, pekerjaan jin belum selesai dikarenakan mereka tahu Nabi Sulaiman telah wafat sehingga mereka menghentikan pekerjaannya. Di Borobudur, terdapat patung yang belum selesai, yaitu Unfinished Solomon.

Hasil karya tulis
  • "Matematika Islam" #1
  • "Matematika Islam" #2
  • "Matematika Islam" #3
  • "Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman"
Sumber:
- http://id.wikipedia.org/wiki/Fahmi_Basya
- http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika_Islam

Abu Yusuf Ya'qub Al-Kindi

View Article
Gambar Abu Yusuf Ya'qub Al-KindiAbu Yusuf Ya'qub Al-Kindi adalah dikenal sebagai filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam,

Nasabnya sampai pada Qahthan berdarah Arab asli. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani. Dia juga salah seorang ilmuwan besar muslim dalam bidang kedokteran dan pemilik salah satu pemikiran terbesar yang dikenal sepanjang peradaban manusia.

Biografi

Al-Kindi dilahirkan di Kufah, ayahnya adalah seorang pejabat pemerintahan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid. Dia dipanggil dengan Al-Kindi karena dihubungkan dengan kabilahnya, yaitu kabilah Arab Kindah. Dia dijuluki filsuf Arab karena dialah filsuf muslim pertama. Barangkali juga karena dialah satu-satunya diantara sekian banyak filsuf muslim yang tidak diragukan kearabannya. Perlu disebutkan bahwa berbagai literatur Barat telah menyelewengkan namanya menjadi Alchendius, sekalipun literatur Barat saat ini menulis dengan namanya yang benar, yaitu Al-Kindi.

Kehidupan dan Pendidikannya

Al-Kindi menghabiskan masa kecilnya di Kufah bersama kedua orang tuanya. Ketika Al-Kindi masih anak-anak, ayahnya meninggal dunia. Keadaannya yang yatim tidak mengendorkan semangatnya. Dia tetap terus mempelajari berbagai macam ilmu di Kufah, Basrah dan Baghdad. Dia memulai belajarnya dari ilmu-ilmu agama, kemudian filsasat, logika, matematika, musik, astronomi, fisika, kimia, geografi, kedokteran dan tekhnik mesin.

Kemampuannya dalam bidang filsafat dan penemuannya dalam bidang kedokteran serta keahliannya sebagai insinyur telah diakui oleh para ilmuwan lain yang hidup pada masanya. Kejeniusan dan kemampuannya dalam berbagai bidang sempat menjadi sumber kedengkian orang-orang yang dengki dan lemah jiwanya, sehingga hampir saja Al-Kindi dipenjara, dicambuk dan diboikot. Anehnya, diantara mereka juga ada yang menjelek-jelekkan prilakunya dan mengklaimnya sebagai orang pelit.

Dalam bidang penguasaan bahasa asing, Al-Kindi menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Yunani dan Suryani. Ada yang mengatakan bahwa dia juga mengusai bahasa asing lainnya. Penguasaannya terhadap berbagai bahasa inilah yang telah membantunya menguasai berbagai macam ilmu dan menadikannya sangat berpengaruh bagi Khalifah Al-Ma'mun, sehingga dia mengangkatnya sebagai penerjemah buku-buku asing yang dianggap penting.

Penemuan Ilmiah dan Pemikiran Al-Kindi

Al-Kindi adalah seorang ilmuwan besar yang setara dengan Ibnul Haitsam dan Al-Biruni. Dia memiliki pemikiran besar yang mungkin mengungguli penemuan para ilmuwan besar lainnya sepanjang sejarah. Kalau saja dia tidak hidup pada masa itu, barangkali peradaban Islam tidak akan semaju waktu itu. Demikian juga pada masa Ibnul Haitsam, Al-Biruni, Al-Karakhi dan Ibnu Sina. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perkembangan peradaban terjadi karena pergerakan yang selalu bertambah atau dengan kata lain ada kerja berkesinambungan yang terus-menerus dilakukan antar generasi. Sebagaimana pada saat itu, Arab tidak memiliki karya besar terjemah sebelumnya. Al-Kindi termasuk ilmuwan yang hidup pada masa pergerakan terjemah, dan dia sendiri adalah seorang penerjemah. Para penerjemah buku-buku Al-Kindi mengatakan bahwa kumpulan buku-buku yang dikarang olehnya dalam bidang filsafat, logika dan berbagai macam ilmu lainnya, jumlahnya mencapai dua ratus buku. Bahkan Dr. Abdul Halim Muntashir mengatakan dalam bukunya "Tarikh Al-Ilm" bahwa buku yang dikarang Al-Kindi mencapai 230 buku.

Penemuan di Bidang Astronomi

Al-Kindi mengamati posisi bintang, planet dan letaknya dari bumi. Dia memperingatkan dampaknya pada bumi, kemungkinan pengukurannya, penentuan pengaruhnya sebagaimana yang terjadi pada fenomena air pasang dan surut yang sangat berkaitan erat dengan posisi bulan. Dia memiliki pikiran yang cerdas dan keberanian ilmiah yang menjadikannya berani menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena alam lainnya di atas bumi, sehingga dapat menciptakan penemuan baru. Diantara yang menakjubkan adalah bahwa seorang orientalis berkebangsaan Belanda, De Bour berpendapat setelah melihat tesis Al-Kindi bahwa hepotesanya tentang air pasang dan surut tentu didasarkan pada eksprimen.

Penemuan di Bidang Ilmu Alam dan Fisika

Al-Kindi membuat tesis tentang warna biru langit. Dia menjelaskan bahwa warna biru bukanlah warna langit itu sendiri, melainkan warna dari pantulan cahaya lain yang berasal dari penguapan air dan butir-butir debu yang bergantung di udara. Tesis ini mendekati banyak penafsiran ilmiah yang benar, yang kita ketahui pada masa sekarang.
Penemuan di Bidang Teknik Mesin

Yaitu ilmu mekanik dalam istilah industri dan teknik saat ini, atau ilmu yang secara khusus berhubungan dengan alat-alat, rangkaian, dan menjalankan fungsinya. Al-Kindi banyak belajar ilmu ini baik secara teoritis maupun praktis. Dia telah menjadi insinyur peradaban Islam dan turut serta dalam pelaksanaan proyek-proyek pembangunan seperti proyek penggalian kanal untuk membuka jaringan sungai Dajlah dan Furat.


Penemuan di Bidang Kimia, Industri Kimia dan Ilmu Perlogaman

Dalam penelitiannya di bidang kimia, Al-Kindi telah memberikan kontribusi yang banyak bagi negeri dan warga negaranya. Dia menguasai berbagai macam ilmu kimia, seperti dalam pembuatan parfum, aroma kimia, kimia untuk membuat kaca, warna, dan besi. Dia memiliki sebuah tesis yang berhubungan dengan pembuatan parfum secara kimiawi dan menciptakan berbagai jenis aroma dari parfum itu, seperti pembuatan minyak kasturi (misk). Dia menyebutkan bahan-bahannya, cara penyulingannya dan cara pencampurannya. Demikian juga dengan pembuatan parfum aroma bunga mawar dan aroma bunga jasmin.

Al-Kindi juga menjelaskan secara ilmiah berbagai proses kimiawi penting, seperti penyaringan dan penyulingan. Al-Kindi juga membuat pedang sebagaimana yang disebutkan dalam dua bukunya dan dia menjelaskan macam-macam besi dan ciri-cirinya serta cara pembuatannya dan pencampurannya. Cara seperti itu sampai sekarang masih dipakai dalam pembuatan pedang, yang mana besi biasa dicampur dengan baja dalam ukuran tertentu kemudian dipanaskan secara bersamaan dengan campurannya, dengan prosentase karbon berkisar antara 5 sampai 10% sehingga didapatkan baja yang sangat keras dan menjadi pedang yang tajam.
Penemuan di Bidang Matematika

Al-Kindi percaya kepada pendapat para ilmuwan bangsa Yunani yang menjadikan ilmu matematika sebagai pengantar yang paling tepat bagi ilmu filsafat dan logika. Hal ini karena ilmu matematika melatih akal untuk berpikir benar dan teratur. Karya Al-Kindi dalam ilmu matematika mencapai 43 buku. 11 buku diantaranya tentang ilmu hitung dan 32 buku tentang ilmu geometri.
Penemuan di Bidang Kedokteran dan Farmasi

Al-Kindi adalah seorang dokter terkemuka. Dia telah menulis sebanyak 22 buku di bidang kedokteran dan banyak memisah-misahkan spesialisasi dalam bidang kedokteran yang penting, sebagaimana dia juga telah mendahului penggunaan musik sebagai salah satu alat untuk mengobati beberapa penyakit.

Karya Bidang Ilmu Logika dan Filsafat

Al-Kindi mendalami filsafat Yunani dan menerjemah sebagian buku-bukunya, menambah dengan keterangan dan komentar yang menunjukkan pada kemampuannya yang sangat besar dalam bidang itu. Kenyataan inilah yang membuat Khalifah Al-Ma'mun memberikan tugas kepadanya untuk menerjemahkan buku-buku karangan Aristoteles. Dia juga menguasai pemikiran dan filsafat Persia dan India. Dia menelusuri metode filsafat dan logika matematika sebagaimana yang dilakukan oleh para filsuf Yunani.

Hubungan Al-Kindi yang kuat dengan filsafat memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan pemikiran ilmiahnya. Al-Kindi menolak segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam dan berusaha untuk memadukan antara filsafat dan pemikiran Islam.

Mengingat penjelasan secara detil tentang peranan Al-Kindi dalam bidang filsafat dan karya-karyanya yang tidak sepenuhnya menjadi fokus utama pembahasan buku ini, maka kami cukup memberitahukan bahwa karya Al-Kindi dalam bidang filsafat berjumlah sebanyak 22 buku.

Hilangnya Buku-buku Al-Kindi

Ya'qub Al-Kindi memiliki lebih dari dua ratus buku yang dikarangnya. Bahkan Dr. Abdul Halim Muntashir mengatakan dalam bukunya "Tarikh Al-Ilm wa Daur Al-Arab fi Taqaddumihi" bahwa buku karangan Al-Kindi lebih dari 230 buku. Akan tetapi yang sangat disayangkan, kebanyakan dari buku-buku ini hilang dan tidak sampai ke tangan kita kecuali judul judulnya saja yang diberitahukan oleh penerjemahnya kepada kita.

Pemikiran Ilmiah Al-Kindi

Secara global, fenomena pemikiran ilmiah Al-Kindi dan indikator yang menunjukkan pada keistimewaannya adalah sebagai berikut:
  • Dia termasuk diantara para ilmuwan pertama yang berpedoman pada metode eksprimen sebagai suatu cara untuk menyimpulkan hakekat ilmiah. Dalam hal ini, kami telah memaparkan pengakuan ilmuwan Belanda, De Bour.
  • Dia mengetahui peranan ilmu matematika dalam membangun akal dan melatihnya untuk konsisten dengan kebiasaan berpikir yang benar. Dalam hal itu, dia berkata, "Filsafat tidak dapat diperoleh kecuali dengan menguasai ilmu matematika."
  • Al-Kindi menyadari bahwa hakekat teori ilmiah dan pemikiran tidak akan benar kecuali setelah melalui proses pematangan yang lama. Dalam hal itu, dia berkata, "Kebenaran yang sempurna tidak akan didapat oleh seseorang, karena ia akan sempurna secara bertahap dengan disempurnakan oleh para generasi pemikir."
  • Sebagai ilmuwan yang memiliki jiwa sehat, dia mengingkari pengaruh bintang-bintang kepada keadaan manusia dan membantah perkataan paranormal tentang pergerakan benda-benda langit. Sekalipun demikian, dia termasuk pemerhati astronomi sebagai salah satu ilmu pengetahuan alam dan mengetahui manfaatnya secara ilmiah dalam berbagai kehidupan manusia.
  • Perhatiannya dalam bidang kimia terbatas pada manfaatnya secara ilmiah, yaitu pada bidang industri dan pengobatan. Dia menolak pemanfaatannya sebagai cara untuk merubah logam yang murah menjadi emas. Menurutnya, pekerjaan seperti ini hanya membuang waktu para ilmuwan pada sesuatu yang tidak banyak manfaatnya.
Wafat

Menurut pendapat Al-Khalili, Al-Kindi wafat pada tahun 260 H (874). Sedangkan menurut sumber lain, dia wafat pada tahun 260 H (874 M). Ada juga yang mengatakan bahwa dia wafat pada tahun 252 H (866 M).

Sumber:
Ensiklopedi Alqur'an 

Minggu, 10 Desember 2017

Omar Khayyam (Matematikawan)

View Article
Gambar Omar KhayyamOmar Khayyam ( Pengucapan bahasa Persia: [xæjjɑːm] ; عمر خیام ( Persia ) ; 18 Mei 1048 - 4 Desember 1131) adalah seorang ahli matematika , astronom , dan penyair Persia .Sebagai seorang matematikawan, dia sangat terkenal karena karyanya mengenai klasifikasi dan solusi persamaan kubik , di mana ia memberikan solusi geometris oleh persimpangan konik . Sebagai seorang astronom, dia menyusun sebuah kalender yang terbukti merupakan perhitungan waktu yang lebih akurat daripada yang diusulkan lima abad kemudian oleh Paus Gregorius XIII .]Omar lahir di Nishapur , di timur laut Iran . Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di dekat istana penguasa Karakhanid dan Seljuq pada masa yang menyaksikan Perang Salib Pertama . Ada tradisi menghubungkan puisi dengan Omar Khayyam, yang ditulis dalam bentuk syair ( rubā'iyāt رباعیات ). Puisi ini dikenal secara luas di dunia membaca Inggris karena terjemahan oleh Edward FitzGerald ( Rubaiyat dari Omar Khayyam , 1859), yang menikmati kesuksesan besar dalam Orientalisme fin de siècle .

Hidup 

Omar Khayyam lahir di Nishapur , sebuah kota metropolis terkemuka di Khorasan selama abad pertengahan yang mencapai puncak kemakmuran di abad kesebelas di bawah dinasti Seljuq. Nishapur kemudian menjadi pusat utama Zoroastrian . Kemungkinan ayah Khayyam adalah seorang Zoroastrian yang telah masuk Islam 68 Ia dilahirkan dalam keluarga pembuat tenda ( Khayyam ). Nama lengkapnya, seperti yang terlihat dalam sumber-sumber Arab, adalah Abu'l Fath Omar ibn Ibrāhīm al-Khayyām .  Dalam teks Persia Abad Pertengahan ia biasanya hanya disebut Omar Khayyām . Sejarawan Bayhaqi , yang secara pribadi mengenal Omar, memberikan rincian lengkap horoskopnya: "dia adalah Gemini, matahari dan Merkurius berada di bawah kekuasaan  Ini digunakan oleh ilmuwan modern untuk menetapkan tanggal lahirnya pada tanggal 18 Mei 1048.

Masa kecilnya disahkan di Nishapur. Pemberiannya diakui oleh tutor awalnya yang mengirimnya untuk belajar di bawah Imam Muwaffaq Nīshābūrī, guru terbesar di wilayah Khorasan yang mengajar anak-anak dari bangsawan tertinggi.  Pada 1073, pada usia dua puluh enam, dia memasuki pelayanan Sultan Malik-Shah I sebagai penasihat. Pada tahun 1076 Khayyam diundang ke Isfahan oleh wazir dan tokoh politik Nizam al-Mulk untuk memanfaatkan perpustakaan dan pusat belajar di sana. Tahun-tahun di Isfahan produktif. Pada saat itulah ia mulai mempelajari karya matematikawan Yunani Euclid dan Apollonius jauh lebih dekat. Tapi setelah kematian Malik-Shah dan wazirnya (mungkin oleh sekte Assassin ), Omar telah menolak untuk memilih di pengadilan, dan kemudian, dia segera berangkat ziarah ke Mekah . Kemungkinan motif tersembunyi untuk ziarah yang dilaporkan oleh Al-Qifti , adalah bahwa dia diserang oleh pendeta karena skeptisismenya yang nyata. Jadi, dia memutuskan untuk melakukan ziarahnya sebagai cara untuk menunjukkan imannya dan membebaskan dirinya dari semua kecurigaan adanya ketidakrasionalan.  Dia kemudian diundang oleh Sultan Sanjar baru ke Marv , mungkin untuk bekerja sebagai astrolog istana. Dia kemudian diizinkan untuk kembali ke Nishapur karena kesehatannya yang menurun. Sekembalinya, dia sepertinya telah menjalani kehidupan pertapa.  Khayyam meninggal pada tahun 1131, dan dimakamkan di Taman Khayyam .

Matematika

"Persamaan kubik dan persimpangan bagian kerucut" halaman pertama manuskrip dua bab yang disimpan di Universitas Teheran.
Khayyam terkenal selama hidupnya sebagai seorang matematikawan . Karya matematis yang dia jalani meliputi: Sebuah komentar tentang kesulitan mengenai dalil-dalil Elemen Euclid ( Risāla fī šarḥ mā aškala min muṣādarāt kitāb Uqlīdis , selesai pada bulan Desember 1077  ), Pada pembagian kuadran sebuah lingkaran ( Risana fī qismah menggosok 'al-dā'irah , tidak bertanggal namun selesai sebelum risalah pada aljabar ), dan Di atas bukti masalah tentang Aljabar ( Maqāla fi l-jabr wa l-muqābala , kemungkinan besar selesai pada 1079  ). Dia kemudian menulis sebuah risalah tentang penggalian akar n dari bilangan asli, yang telah hilang.

Teori paralel 

Bagian dari komentar Khayyam tentang Elemen Euclid berhubungan dengan aksioma paralel .Risalah Khayyam dapat dianggap sebagai pengobatan pertama dari aksioma yang tidak didasarkan pada petitio principii , namun pada dalil yang lebih intuitif. Khayyam menolak usaha sebelumnya oleh ahli matematika lain untuk membuktikan proposisi tersebut, terutama dengan alasan bahwa masing-masing telah mendalilkan sesuatu yang tidak berarti lebih mudah untuk diterima daripada Postulat Kelima itu sendiri. Dan dia, seperti Aristoteles , menolak penggunaan gerak dalam geometri dan karena itu menolak usaha yang berbeda dengan Al-Haytham juga.  Tidak puas dengan kegagalan matematikawan untuk membuktikan pernyataan Euclid dari dalil-dalilnya yang lain, Omar mencoba menghubungkan aksioma tersebut dengan Postulat Keempat, yang menyatakan bahwa semua sudut benar sama satu sama lain.

Khayyam adalah orang pertama yang mempertimbangkan tiga kasus sudut akut, tumpul, dan kanan untuk sudut puncak sebuah segiempat Khayyam-Saccheri , tiga kasus yang saling melengkapi dan saling berpasangan. Setelah membuktikan sejumlah teorema tentang mereka, dia membuktikan bahwa Postulat V adalah konsekuensi dari hipotesis sudut siku-siku, dan membantah kasus bodoh dan akut sebagai kontradiksi-sendiri. Upaya terperinci Khayyam untuk membuktikan postulat paralel penting untuk pengembangan geometri lebih lanjut, karena jelas menunjukkan kemungkinan geometri non-Euclidean. Hipotesis dari akut, tumpul, dan sudut kanan sekarang diketahui mengarah masing-masing ke geometri hiperbolik non-Euclidean dari Gauss-Bolyai-Lobachevsky, dengan geometri Riemannian , dan geometri Euclidean .

Komentar Tusi tentang perlakuan Khayyam tentang kesejajaran berjalan ke Eropa. John Wallis , profesor geometri di Oxford, menerjemahkan komentar Tusi ke dalam bahasa Latin. Geometri Jesuit Girolamo Saccheri , yang karyanya ( euclides ab omni naevo vindicatus , 1733) pada umumnya dianggap sebagai langkah pertama dalam pengembangan geometri non-Euclidean akhirnya , terbiasa dengan karya Wallis. Sejarawan Amerika matematika, David Eugene Smith menyebutkan bahwa Saccheri "menggunakan lemma yang sama dengan yang dimiliki Tusi, bahkan menulis huruf dengan cara yang persis sama dan menggunakan lemma untuk tujuan yang sama". Dia lebih jauh mengatakan bahwa "Tusi dengan jelas menyatakan bahwa ini karena Omar Khayyam, dan dari teksnya, nampak jelas bahwa yang terakhir adalah inspiratornya."

Konsep bilangan real

Risalah tentang Euclid ini berisi kontribusi lain yang berhubungan dengan teori proporsi dan dengan perumusan rasio. Khayyam membahas hubungan antara konsep rasio dan konsep angka dan secara eksplisit menimbulkan berbagai kesulitan teoritis. Secara khusus, dia berkontribusi pada studi teoritis tentang konsep bilangan irasional . Dengan definisi Euclid tentang rasio yang sama, dia mendefinisikan ulang konsep sebuah angka dengan menggunakan fraksi kontinu sebagai alat untuk mengekspresikan rasio. Rosenfeld dan Youschkevitch (1973) berpendapat bahwa "dengan menempatkan jumlah dan angka irasional dalam skala operasional yang sama, Memulai sebuah revolusi sejati dalam doktrin tentang jumlah." Demikian juga, dicatat oleh DJ Struik bahwa Omar "berada di jalan menuju perluasan konsep angka yang mengarah pada gagasan tentang jumlah sebenarnya ."

Aljabar geometrik 

Pembangunan solusi Omar Khayyam untuk kubus x 3 + 2 x = 2 x 2 + 2. Titik persimpangan yang dihasilkan oleh lingkaran dan hiperbola menentukan segmen yang diinginkan.
Khayyam adalah orang pertama yang secara geometris memecahkan setiap jenis persamaan kubik, sejauh akar positif diperhatikan. Risalah tentang aljabar berisi karyanya tentang persamaan kubik . Ini dibagi menjadi tiga bagian: (i) persamaan yang dapat dipecahkan dengan kompas dan straight edge , (ii) persamaan yang dapat dipecahkan dengan cara berbentuk kerucut , dan (iii) persamaan yang melibatkan kebalikan dari yang tidak diketahui .

Perlakuan Omar terhadap persamaan kubik sangat lengkap. Dia mempertimbangkan tiga persamaan binomial, sembilan persamaan trinomial, dan tujuh persamaan tetranomial. Untuk polinomial tingkat pertama dan kedua, ia memberikan solusi numerik dengan konstruksi geometris. Dia menyimpulkan bahwa ada empat belas jenis kubik yang tidak dapat dikurangi menjadi persamaan tingkat yang lebih rendah. Untuk ini dia tidak bisa menyelesaikan pembangunan segmennya yang tidak diketahui dengan kompas dan straight edge. Dia melanjutkan untuk menyajikan solusi geometris ke semua jenis persamaan kubik dengan menggunakan sifat-sifat kerucut. Esma prasyarat untuk bukti geometri Khayyam meliputi Euclid VI , Prop 13, dan Apollonius II , Prop 12.  Akar positif dari persamaan kubik ditentukan sebagai absis dari sebuah titik persimpangan dua conics, misalnya, persimpangan dua parabola , atau persimpangan parabola dan lingkaran, dll.Namun, dia mengakui bahwa masalah aritmetika kubik ini masih belum terpecahkan, menambahkan bahwa "mungkin orang lain akan mengetahuinya setelah kita".Tugas ini tetap terbuka sampai abad keenambelas, di mana solusi aljabar dari persamaan kubik ditemukan dalam generalitasnya oleh Cardano , Del Ferro , dan Tartaglia di Renaisans Italia .

Siapa pun yang berpikir aljabar adalah tipuan dalam mendapatkan hal yang tidak diketahui telah menganggapnya sia-sia. Tidak ada perhatian yang harus diberikan pada fakta bahwa aljabar dan geometri berbeda dalam penampilan. Algebras adalah fakta geometris yang dibuktikan dengan proposisi lima dan enam Buku Dua Unsur .
Omar Khayyam

Solusi geometrik kuadrat khusus ini telah diteliti lebih lanjut dan diperluas ke empat persamaan derajat.  Solusinya bukanlah jalan langsung menuju solusi numerik, dan solusinya bukanlah angka tapi segmen garis . Meskipun metode serupa telah muncul secara sporadis sejak Menaechmus , karya Khayyam dapat dianggap sebagai studi sistematis pertama dan metode tepat pertama untuk memecahkan persamaan kubik.

Teorema binomial dan ekstraksi akar 

Dari orang India seseorang memiliki metode untuk mendapatkan akar kuadrat dan kuadrat , metode berdasarkan pengetahuan tentang kasus individual - yaitu pengetahuan kuadrat dari sembilan digit 1 2 , 2 2 , 3 2 (dll) dan produknya masing-masing, yaitu 2 × 3 dll. Kami telah menulis sebuah risalah tentang bukti keabsahan metode tersebut dan mereka memenuhi persyaratan. Selain itu kita telah meningkatkan jenisnya, yaitu dalam bentuk penentuan akar keempat, kelima, keenam sampai tingkat yang diinginkan. Tidak ada yang mendahului kita dalam hal ini dan bukti-bukti itu murni aritmatika, yang didasarkan pada aritmatika The Elements .

Risalah Omar Khayyam tentang Demonstrasi Soal Aljabar
Dalam risalah aljabarnya, Khayyam menyinggung sebuah buku yang telah ditulisnya tentang ekstraksi  {\ displaystyle n} n Akar nomor menggunakan hukum yang dia temukan yang tidak bergantung pada angka geometris. Buku ini kemungkinan besar berjudul Kesulitan aritmatika ( Moškelāt al-hesāb ), dan tidak ada. Berdasarkan konteksnya, beberapa sejarawan matematika seperti DJ Struik, percaya bahwa Omar pasti sudah mengetahui formula untuk perluasan binomial.  {\ displaystyle (a + b) ^ {n}} (a + b) ^ n , dimana n adalah bilangan bulat positif.  Kasus kekuasaan 2 secara eksplisit dinyatakan dalam elemen Euclid dan kasus paling banyak kekuasaan 3 telah ditetapkan oleh matematikawan India. Khayyam adalah matematikawan yang menyadari pentingnya teorema binomial umum. Argumen yang mendukung klaim bahwa Khayyam memiliki teorema binomial umum didasarkan pada kemampuannya untuk mengekstrak akar. Susunan angka yang dikenal sebagai segitiga Pascal memungkinkan seseorang menuliskan koefisien dalam ekspansi binomial. Arus segitiga ini terkadang dikenal sebagai segitiga Omar Khayyam.

Astronomi

Kalender Jalali diperkenalkan oleh Omar Khayyam bersama matematikawan dan astronom lainnya di Nishapur. Hari ini adalah salah satu kalender tertua di dunia serta kalender matahari paling akurat yang sedang digunakan saat ini. Karena kalender menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan ekuinoks vernal, ia tidak memiliki kesalahan intrinsik, namun ini menjadikannya sebagai observasi berdasarkan kalender.

Pada 1074, Omar Khayyam ditugaskan oleh Sultan Malik-Shah untuk membangun sebuah observatorium di Isfahan dan memperbarui kalender Persia . Ada panel dari delapan ilmuwan yang bekerja di bawah arahan Khayyam untuk melakukan pengamatan astronomi berskala besar dan merevisi tabel astronomi.  Mengkalibrasi ulang kalender pada hari pertama tahun ini tepat pada saat melewati pusat Matahari di seluruh vernal equinox . Ini menandai awal musim semi atau Nowrūz , hari di mana Matahari memasuki tingkat pertama Aries sebelum tengah hari. Kalender yang dihasilkan diberi nama dalam kehormatan Malik-Shah sebagai kalender Jalālī , dan diresmikan pada hari Jumat, 15 Maret 1079. Observatorium itu sendiri tidak digunakan setelah kematian Malik-Shah di tahun 1092.

Kalender Jalāl adalah kalender matahari yang benar dimana durasi setiap bulan sama dengan waktu perjalanan Matahari melintasi tanda Zodiac yang sesuai . Reformasi kalender memperkenalkan siklus interkalasi 33 tahun yang unik. Seperti yang ditunjukkan oleh karya Khazini , kelompok Khayyam menerapkan sistem interkalasi berdasarkan tahun kabisat quadrennial dan quinquennial. Oleh karena itu, kalender terdiri dari 25 tahun biasa yang meliputi 365 hari, dan 8 tahun kabisat yang mencakup 366 hari.  Kalender tetap digunakan di seluruh Iran Raya dari abad ke-11 sampai abad ke-20. Pada tahun 1911 kalender Jalali menjadi kalender nasional resmi Qajar Iran . Pada tahun 1925 kalender ini disederhanakan dan nama bulan dimodernisasi, menghasilkan kalender Iran modern . Kalender Jalali lebih akurat daripada kalender Gregorian tahun 1582,  dengan kesalahan satu hari yang terakumulasi lebih dari 5.000 tahun, dibandingkan dengan satu hari setiap 3.330 tahun dalam kalender Gregorian.  Moritz Cantor menganggapnya sebagai kalender paling sempurna yang pernah dibuat.

Sebuah klaim populer mengenai efek yang Khayyam percaya pada heliosentrisme didasarkan pada rendering Khayyam Edward FitzGerald yang populer tapi mudah dibaca anak dari puisi Khayyam, di mana baris pertama salah diterjemahkan dengan gambar heliosentris Matahari yang melemparkan "Batu yang menempatkan Bintang ke Penerbangan ".

Sumber : Wikipedia

Abū Isḥāq Ibrāhīm Pembuat instrumen

View Article
Gambar Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Yaḥyā al-Naqqāsh al-Zarqālī
Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Yaḥyā al-Naqqāsh al-Zarqālī , juga dikenal sebagai Al-Zarkali atau Ibn Zarqala (1029-1087), adalah pembuat instrumen, pembuat astrologi Arab, dan salah satu astronom terkemuka pada masanya. Meskipun namanya disebut sebagai al-Zarqālī, kemungkinan besar bentuk yang benar adalah al-Zarqālluh.  Dalam bahasa Latin ia disebut sebagai Arzachel atau Arsechieles , bentuk modifikasi Arzachel , yang berarti 'pemahat'.  Ia tinggal di Toledo , Al-Andalus sebelum pindah ke Córdoba kemudian dalam hidupnya. Karya-karyanya mengilhami generasi astronom Islam di Al-Andalus.

Kehidupan awal

Al-Zarqālī lahir di sebuah desa dekat pinggiran kota Toledo , ibukota Taifa di Toledo .

Art dari Toledo di Al-Andalus menggambarkan Alcázar di tahun 976.AD
Dia dilatih sebagai tukang logam dan karena keterampilan burr dia dijuluki Al-Nekkach "pemahat logam". Nama latinnya, 'Arzachel' terbentuk dari bahasa Arab al-Zarqali al-Naqqash , yang berarti 'pemahat'.

Dia sangat berbakat di bidang Geometri dan Astronomi . Dia dikenal telah mengajar dan mengunjungi Córdoba dalam berbagai kesempatan, dan pengalaman dan pengetahuannya yang luas akhirnya menjadikannya astronom terdepan pada masanya . Al-Zarqālī juga seorang penemu, dan karyanya membantu menempatkan Toledo di pusat intelektual Al-Andalus . Dia juga disebut dalam karya Chaucer, sebagai 'Arsechieles'.

Pada tahun 1085 Toledo diambil oleh raja Kristen Castile Alfonso VI . Al-Zarqālī dan rekan-rekannya, seperti Al-Waqqashi (1017-1095) dari Toledo , harus melarikan diri. Tidak diketahui apakah orang tua Al-Zarqālī melarikan diri ke Cordoba atau meninggal di kamp perlindungan Moor .

Karya-karyanya memengaruhi Ibn Bajjah (Avempace), Ibn Tufail (Abubacer), Ibn Rusyd (Averroës), Ibn al-Kammad , Ibn al-Haim al-Ishbili dan Nuruddin al-Betrugi (Alpetragius).

Pada abad ke-12, Gerard dari Cremona menerjemahkan karya al-Zarqali ke bahasa Latin. Dia menyebut Al-Zarqali sebagai astronom dan pesulap.  Ragio Montanous [ rujukan? ] Menulis sebuah buku di abad ke 15 mengenai keuntungan dari Sahifah al-Zarqalia. Pada tahun 1530, ilmuwan Jerman Jacob Ziegler menulis sebuah komentar tentang salah satu karya al-Zarqali. Dalam bukunya "De Revolutionibus Orbium Coelestium", pada tahun 1530, Nicolaus Copernicus mengutip karya al-Zarqali dan Al-Battani .

Sains

Instrumen 
Al-Zarqālī menulis dua karya tentang konstruksi instrumen (sebuah equatorium ) untuk menghitung posisi planet menggunakan diagram model Ptolemaic. Karya-karya ini diterjemahkan ke bahasa Spanyol pada abad ke-13 atas perintah Raja Alfonso X di bagian Libros del Saber de Astronomia yang berjudul "Libros de las laminas de los vii planetas".

Dia juga menemukan jenis astrolabe yang disempurnakan yang dikenal sebagai "tablet al-Zarqālī" (al-ṣafīḥā al-zarqāliyya), yang terkenal di Eropa dengan nama Saphaea .

Ada catatan al-Zarqālī yang membangun jam air , yang mampu menentukan jam siang dan malam dan menunjukkan hari-hari bulan lunar. Menurut sebuah laporan yang ditemukan di Kitāb al-Ju'rāfīyya al-Zuhr , namanya diberikan sebagai Abu al-Qāsim bin'Abd al-Raḥmān, juga dikenal sebagai al-Zarqālī, yang membuat beberapa sejarawan berpikir bahwa ini adalah orang yang berbeda

Teori

Al-Zarqali mengoreksi data geografis dari Ptolemy dan Al-Khwarizmi . Secara khusus, dia mengoreksi perkiraan Ptolemy tentang garis bujur laut Mediterania dari 62 derajat sampai nilai 42 derajat yang benar.  Dalam risalahnya pada tahun matahari, yang hanya bertahan dalam terjemahan bahasa Ibrani, dia adalah orang pertama yang menunjukkan gerak apogee matahari yang relatif terhadap latar belakang bintang yang tetap. Dia mengukur laju geraknya 12,04 detik per tahun, yang sangat dekat dengan perhitungan modern 11,77 detik. Model Al-Zarqāl untuk gerak Matahari, di mana pusat matahari berubah dari lingkaran kecil berputar perlahan untuk mereproduksi gerakan mengamati apogee matahari, telah dibahas pada abad ketigabelas oleh Bernard dari Verdun [8] dan pada abad kelima belas oleh Regiomontanus dan Peurbach . Pada abad keenam belas Copernicus menggunakan model ini, dimodifikasi menjadi bentuk heliosentris, dalam bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestium .

Tabel dari Toledo 

Al-Zarqālī juga berkontribusi pada Tabel Toledo yang terkenal, sebuah adaptasi dari data astronomi sebelumnya ke lokasi Toledo bersamaan dengan penambahan beberapa materi baru. [1] Al-Zarqālī terkenal juga untuk Kitab Tabelnya sendiri . Banyak "buku tabel" telah disusun, tapi almanaknya berisi meja yang memungkinkan seseorang menemukan hari-hari dimana bulan-bulan Koptik, Romawi, bulan lunar, dan Persia dimulai, tabel lain yang memberi posisi planet pada waktu tertentu, dan Masih ada lagi yang memfasilitasi prediksi gerhana matahari dan bulan.

Dia juga mengumpulkan almanak yang secara langsung memberi "posisi benda angkasa dan tidak memerlukan perhitungan lebih lanjut". Pekerjaan tersebut menyediakan posisi matahari yang sebenarnya selama empat tahun Julian dari tahun 1088 sampai 1092, posisi sebenarnya dari lima planet setiap 5 atau 10 hari selama 8 tahun untuk Venus, 79 tahun untuk Mars, dan seterusnya, seperti serta tabel terkait lainnya.

Zij dan Almanac -nya diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12, dan berkontribusi pada kelahiran kembali sebuah astronomi berbasis matematis di Eropa Kristen dan kemudian dimasukkan ke dalam Tabel Toledo pada abad ke-12 dan tabel Alfonsine di 13th abad.

Dalam merancang sebuah instrumen untuk menangani model kompleks Ptolemeus untuk planet Merkurius , di mana pusat gerakan deferent bergerak pada epicycle sekunder, al-Zarqālī mencatat bahwa jalur pusat epicycle utama bukanlah lingkaran, karena untuk planet lain Sebaliknya itu adalah sekitar oval dan mirip dengan bentuk pignon . Beberapa penulis telah salah menafsirkan deskripsi al-Zarqāl description tentang jalur oval yang berpusat pada bumi untuk pusat epicycle planet ini sebagai antisipasi jalur elips yang berpusat pada matahari Kepler untuk planet-planet. Meskipun ini mungkin merupakan saran pertama bahwa bagian kerucut dapat berperan dalam astronomi, al-Zarqālī tidak menerapkan elips ke teori astronomi dan juga dia atau orang-orang sezamannya dari Iberia atau Maghrebi menggunakan deferen elips dalam perhitungan astronomi mereka.

Pekerjaan

Karya Utama dan terbitan:
  • 1 - "Al Amal bi Assahifa Az-Zijia";
  • 2 - "Attadbir";
  • 3 - "Al Madkhal fi Ilm Annoujoum";
  • 4 - "Rissalat fi Tarikat Istikhdam as-Safiha al-Moushtarakah li Jamiâ al-ouroud";
  • 5- "Almanak Arzarchel";
Sumber : Wikipedia

Kamis, 07 Desember 2017

Ibnu Sina "Avicenna"

View Article
Gambar Avicenna (Ibn Sīnā  ابن سینا)
Profil 
Nama lain : Sharaf al-Mulk Hujjat al-Haq Sheikh al-Rayees Ibn-Sino (Abu Ali Abdulloh Ibn-Sino) Bu Alī Sīnā (بو علی سینا)
Lahir : kr. 980 Afshona, Peshkunskiy, Bukhara, Dinasti Samaniyah
Meninggal dunia : June 1037 (berusia 56–57) Hamadan, Emirat Kakuyid
Era : Zaman Keemasan Islam
Wilayah : Dinasti Samaniyah, Dinasti Ziyarid Thabaristan, Buyid Persia
Bidang : Filsafat, Ilmu Kalam, Sains Sastra, Karya penting, Kitab Al-Shifa, ʾQanun fi Thib





Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai "Avicenna" di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan dan dokter kelahiran Persia (sekarang Iran). Ia juga seorang penulis yang produktif yang sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, dia adalah "Bapak Pengobatan Modern". Karyanya yang sangat terkenal adalah al-Qānūn fī aṭ-Ṭibb yang merupakan Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina, arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan dan meninggal bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. " George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat dan waktu". Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb).

Latar Belakang

Ibnu Sina merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dokter dan penulis aktif yang lahir di zaman keemasan Peradaban Islam. Pada zaman tersebut ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa ini meliputi matematika, astronomi, Aljabar, Trigonometri, dan ilmu pengobatan.. Pada zaman Dinasti Samayid dibagian timur Persian wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian barat Iran dan Persian memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam.

Ilmu ilmu lain seperti studi tentang Al-Quran dan Hadist berkembang dengan perkembangan dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada masa itu Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan Hamedan. Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang matematikawan terkenal dan sangat teliti, Abu al-Khayr Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan terkenal lainya.

Biografi

Kehidupan awal

Ibnu Sina lahir 980 masehi di Afsana, sebuah desa dekat Bukhara (sekarang dikenal dengan Uzbekistan), ibukota Samaniyah, sebuah dinasti Persia di Central Asia dan Greater Khorasan. Ibunya, bernama Setareh, berasal dari Bukhara; ayahnya, Abdullah, adalah seorang Ismaili yang dihormati, sarjana dari Balkh, sebuah kota penting dari Kekaisaran Samanid (sekarang dikenal dengan provinsi Balkh, Afghanistan). Ayahnya bekerja di pemerintahan Samanid di desa Kharmasain, kekuatan regional Sunni. Setelah lima tahun, adiknya, Mahmoud lahir. Ibnu Sina sejak kecil mulai mempelajari Al-Quran dan sasta, kira-kira sebelum ia berusia 10 tahun.

Sejumlah teori telah diusulkan mengenai madhab (pemikiran dalam islam) Ibnu Sina. Sejarawan abad pertengahan Zahir al-din al-Baihaqi (d. 1169) menganggap Ibnu Sina menjadi pengikut Ikhwan al-Safa. Di sisi lain, Dimitri Gutas bersama dengan Aisha Khan dan Jules J. Janssens menunjukkan bahwa Avicenna adalah Sunni Hanafi. Namun, abad ke-14 Shia faqih Nurullah Shushtari menurut Seyyed Hossein Nasr, menyatakan bahwa ia kemungkinan besar adalah bermadhab Dua Belas Syiah. Sebaliknya, Sharaf Khorasani, mengutip penolakan undangan dari Gubernur Sunni Sultan Mahmud Ghazanavi oleh Ibnu Sina di istananya, percaya bahwa Ibnu Sina adalah Ismaili. Perbedaan pendapat serupa ada pada latar belakang keluarga Avicenna, sedangkan beberapa penulis menganggap mereka Sunni, beberapa lagi menganggap bahwa dia adalah Syiah.

Menurut otobiografinya, Ibnu Sina telah hafal seluruh Quran pada usia 10 tahun. Ia belajar aritmatika India dari pedagang sayur India Mahmoud Massahi dan ia mulai belajar lebih banyak dari seorang sarjana yang memperoleh nafkah dengan menyembuhkan orang sakit dan mengajar anak muda. Dia juga belajar Fiqih (hukum Islam) di bawah Sunni Hanafi sarjana Ismail al-Zahid.

Sebagai seorang remaja, dia sangat bingung dengan teori Metafisika Aristoteles, yang ia tidak bisa mengerti sampai dia membaca komentar al-Farabi pada pekerjaan. Untuk tahun berikutnya, ia belajar filsafat, di mana ia bertemu lebih besar rintangan. Pada saat-saat seperti ini, dia akan meninggalkan buku-bukunya, melakukan wudhu, kemudian pergi ke masjid dan terus berdoa sampai hidayah menyelesaikan kesulitan-kesulitannya. Jauh malam, ia akan melanjutkan studi dan bahkan dalam mimpinya masalah akan mengejar dia dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata-kata itu dicantumkan pada ingatannya; tetapi artinya tak jelas, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di sebuah toko buku seharga kurang dari tiga dirham. Begitu besar kegembiraannya atas penemuannya itu, yang dibuat dengan bantuan sebuah karya dari yang telah diperkirakan hanya misteri, bahwa ia bergegas untuk kembali, berterima kasih kepada Tuhan dan diberikan sedekah atas orang miskin.

Dia beralih ke pengobatan di usia 16 dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi juga menemukan metode baru pengobatan. Anak muda ini memperoleh status penuh sebagai dokter yang berkualitas pada usia 18 dan menemukan bahwa "Kedokteran adalah ilmu yang sulit ataupun berduri, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya segera membuat kemajuan besar, saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat pasien, menggunakan obat yang disetujui". Ketenaran Ibnu Sina menyebar dengan cepat dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Masa Dewasa

Janji pertama Ibnu Sina adalah bahwa emir Nuh II yang berhutang padanya pemulihan dari penyakit berbahaya (997), Ibnu Sina berhasil mendapat akses ke perpustakaan kerajaan Samaniyah. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama setelah itu, musuh-musuh Ibnu Sina menuduhnya membakar perpustakaan dan dituduh menyembunyikan sumber pengetahuannya hanya untuk dirinya. Sementara itu, ia membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awal.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ia kehilangan ayahnya. Dinasti Samanid telah berakhir pada bulan Desember 1004. Ibnu Sina tampaknya telah menolak tawaran Mahmud dari Ghazni dan menuju kearah Barat ke Urgench di Turkmenistan modern, di mana wazir, dianggap sebagai teman sarjana, memberinya uang saku bulanan yang kecil. Ibnu Sina lalu mengembara dari satu tempat ke tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan. Qabus, penguasa yang murah hati di Tabaristan, dirinya seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibnu Sina mengharapkan menemukan suaka, pada sekitar tanggal tersebut (1012) mati kelaparan oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada saat ini dilanda penyakit parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspia, Ibnu Sina bertemu dengan seorang teman, yang membeli sebuah rumah di dekat rumahnya sendiri di mana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa risalah Ibnu Sina ditulis untuk pelindung ini dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga ditulis saat ia menetap di Hyrcania.

Ibnu Sina kemudian menetap di Rey, di sekitar Teheran modern, kota asal Rhazes; mana Majd Addaula, putra dari Buwaihi emir terakhir, adalah penguasa nominal di bawah Kabupaten ibunya (Seyyedeh Khatun). Sekitar tiga puluh karya Ibnu Sina dikatakan telah disusun dalam Rey. permusuhan konstan yang berkecamuk antara bupati dan putra keduanya, Shams al-Daulah, bagaimanapun, memaksa sarjana untuk berhenti tempat. Setelah tinggal singkat di Qazvin ia lulus arah selatan ke Hamadan mana Shams al-Daulah, Buwaihi emir lain, telah memantapkan dirinya. Pada awalnya, Ibnu Sina mengadakan pelayanan seorang wanita tinggi lahir; tetapi emir, mendengar kedatangannya, memanggilnya sebagai petugas medis, dan mengirimnya kembali dengan hadiah ke tempat tinggalnya. Ibnu Sina bahkan diangkat ke kantor wazir. emir memutuskan bahwa ia harus dibuang dari negeri. Ibnu Sina, bagaimanapun, tetap tersembunyi selama empat puluh hari di rumah syekh Ahmed Fadhel, sampai serangan segar penyakit yang disebabkan emir untuk mengembalikan dia ke posnya. Bahkan selama terganggu ini, Ibnu Sina bertahan dengan studi dan ajaran-Nya. Setiap malam, ekstrak dari karya-karya besarnya, Canon dan Sanatio, ungkapkan dan menjelaskan kepada murid-muridnya. Pada kematian emir, Ibnu Sina berhenti menjadi wazir dan bersembunyi di rumah seorang apoteker, di mana, dengan ketekunan intens, ia melanjutkan komposisi karya-karyanya.

Sementara itu, ia telah menulis untuk Abu Ya'far, prefek kota dinamis Isfahan, menawarkan jasanya. Emir baru Hamadan, mendengar korespondensi ini dan menemukan di mana Ibn Sina bersembunyi, dipenjara dia di sebuah benteng. Sementara perang terus antara penguasa Isfahan dan Hamadan; di 1024 mantan ditangkap Hamadan dan kota-kota, mengusir tentara bayaran Tajik. Ketika badai berlalu, Ibnu Sina kembali dengan emir ke Hamadan, dan dilakukan pada tenaga kerja sastra. Kemudian, ditemani oleh saudaranya, murid favorit, dan dua budak, Ibnu Sina melarikan diri dari kota menggunakan gaun bernuansa Sufi. Setelah perjalanan berbahaya, mereka mencapai Isfahan, menerima sambutan terhormat dari pangeran.

Sisa Hidup

Sisa sepuluh atau dua belas tahun hidup Ibnu Sina ini dihabiskan dalam pelayanan dari Kakuyid penguasa Muhammad bin Rustam Dushmanziyar (juga dikenal sebagai Ala al-Dawla), yang ia didampingi sebagai dokter, sastra, dan penasihat ilmiah, bahkan dalam berbagai kampanye nya .

Selama tahun ini ia mulai belajar hal-hal sastra dan filologi. Sebuah kolik parah, yang menangkap dia di barisan tentara terhadap Hamadan, diperiksa oleh obat sehingga kekerasan yang Ibnu Sina nyaris tak bisa berdiri. Pada kesempatan yang sama penyakit itu kembali; dengan kesulitan ia mencapai Hamadan, di mana, menemukan penyakit mendapatkan tanah, ia menolak untuk mengikuti rejimen yang dikenakan, dan mengundurkan diri dirinya untuk nasibnya.

Teman-temannya menyarankan dia untuk memperlambat dan mengambil hidup cukup. Dia menolak, bagaimanapun, menyatakan bahwa:. "Saya lebih memilih hidup yang pendek dengan lebar untuk satu sempit dengan panjang" Pada penyesalan ranjang kematiannya menangkapnya; ia diberikan barang nya pada orang miskin, dipulihkan keuntungan yang tidak adil, membebaskan budak, dan membaca Al-Quran setiap tiga hari sampai kematiannya. Ia meninggal pada Juni 1037, di tahun kelima puluh kedelapan, dalam bulan Ramadan dan dimakamkan di Hamadan, Iran.

Filsafat

Ibnu Sina menulis secara ekstensif pada filsafat Islam awal, terutama mata pelajaran logika, etika, dan metafisika, termasuk risalah bernama Logika dan Metafisika. Sebagian dari karya-karyanya ditulis dalam bahasa Arab - maka bahasa ilmu di Timur Tengah - dan beberapa dalam bahasa Persia. Signifikansi linguistik bahkan sampai hari ini adalah beberapa buku yang ia tulis dalam bahasa Persia hampir murni (terutama Danishnamah-yi 'Ala', Filsafat untuk Ala 'ad-Dawla').

Buku tentang Penyembuhan menjadi tersedia di Eropa dalam terjemahan Latin parsial beberapa puluh tahun setelah komposisi, dengan judul Sufficientia, dan beberapa penulis telah mengidentifikasi "Latin Avicennism" sebagai berkembang untuk beberapa waktu, sejalan dengan lebih berpengaruh Latin Averroism, tetapi ditekan oleh dekret Paris dari 1210 dan 1215. psikologi dan teori pengetahuan Avicenna dipengaruhi William dari Auvergne, Uskup Paris dan Albertus Magnus, sementara metafisika berdampak pada pemikiran Thomas Aquinas.

Metafisik

Filsafat dan Islam metafisika Islam awal, dijiwai karena dengan teologi Islam, membedakan lebih jelas daripada Aristotelianisme antara esensi dan eksistensi. Sedangkan keberadaan adalah domain dari kontingen dan disengaja, esensi bertahan dalam makhluk luar disengaja. Filsafat Ibnu Sina, terutama bagian yang berkaitan dengan metafisika, berutang banyak al-Farabi. Pencarian untuk filsafat Islam definitif terpisah dari okasionalisme dapat dilihat pada apa yang tersisa dari karyanya.

Setelah memimpin al-Farabi, Ibnu Sina memulai penyelidikan penuh ke dalam pertanyaan dari makhluk, di mana ia membedakan antara esensi (Mahiat) dan keberadaan (Wujud). Dia berargumen bahwa fakta keberadaan tidak dapat disimpulkan dari atau dicatat dengan esensi dari hal-hal yang ada, dan bentuk yang dan materi sendiri tidak dapat berinteraksi dan berasal gerakan alam semesta atau aktualisasi progresif hal yang ada. Keberadaan harus, karena itu, disebabkan agen-penyebab yang mengharuskan, mengajarkan, memberikan, atau menambah eksistensi ke esensi. Untuk melakukannya, penyebabnya harus menjadi hal yang ada dan hidup berdampingan dengan efeknya.

Pertimbangan Avicenna dari pertanyaan esensi-atribut dapat dijelaskan dalam hal analisis ontologis tentang modalitas menjadi; yaitu kemustahilan, kontingensi, dan kebutuhan. Avicenna berpendapat bahwa makhluk tidak mungkin adalah bahwa yang tidak bisa eksis, sementara kontingen sendiri (mumkin bi-dhatihi) memiliki potensi untuk menjadi atau tidak menjadi tanpa yang melibatkan kontradiksi. Ketika diaktualisasikan, kontingen menjadi 'ada diperlukan karena apa yang selain itu sendiri' (wajib al-wujud bi-ghayrihi). Jadi, kontingensi dalam dirinya adalah potensi beingness yang akhirnya bisa diaktualisasikan oleh penyebab eksternal selain itu sendiri. Struktur metafisik kebutuhan dan kontinjensi berbeda. makhluk diperlukan karena itu sendiri (wajib al-wujud bi-dhatihi) benar dalam dirinya sendiri, sedangkan makhluk kontingen adalah 'palsu dalam dirinya sendiri' dan 'benar karena sesuatu yang lain selain itu sendiri'. Yang diperlukan adalah sumber keberadaan sendiri tanpa adanya dipinjam. Ini adalah apa yang selalu ada.

The Necessary ada 'karena-to-Its-Self', dan tidak memiliki hakikat / esensi (mahiyya) selain keberadaan (wujud). Selanjutnya, Ini adalah 'One' (wahid ahad) karena tidak bisa ada lebih dari satu 'Diperlukan-yang Ada-karena-to-Hakikat' tanpa differentia (fasl) untuk membedakan mereka dari satu sama lain. Namun, untuk meminta differentia mensyaratkan bahwa mereka ada 'karena-to-diri' serta 'karena apa yang selain diri mereka sendiri'; dan ini bertentangan. Namun, jika tidak ada differentia membedakan mereka dari satu sama lain, maka tidak ada rasa di mana ini 'Existent' tidak satu dan sama.  Ibnu Sina menambahkan bahwa 'Diperlukan-yang Ada-karena-to-Hakikat' tidak memiliki genus (jins), atau definisi (hadd), maupun rekan (nTambahkan) atau berlawanan (melakukan), dan terlepas (bari) dari materi (madda), kualitas (kayf), kuantitas (kam), tempat (ain ), situasi (segumpal), dan waktu (waqt).

Teologi

Avicenna adalah seorang Muslim yang taat dan berusaha untuk mendamaikan filsafat rasional dengan teologi Islam. Tujuannya adalah untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan ciptaan-Nya dari dunia ilmiah dan melalui akal dan logika.  views Avicenna tentang teologi Islam (dan filsafat) yang sangat berpengaruh, membentuk bagian dari inti kurikulum di sekolah-sekolah agama Islam sampai abad ke-19.  Ibnu Sina menulis sejumlah risalah singkat berurusan dengan teologi Islam. Ini risalah disertakan pada nabi (yang ia dipandang sebagai "filsuf terinspirasi"), dan juga pada berbagai penafsiran ilmiah dan filosofis dari Quran, seperti bagaimana Quran kosmologi sesuai dengan sistem filsafat sendiri. Secara umum risalah ini terkait tulisan-tulisan filosofis ide-ide agama Islam; misalnya, akhirat tubuh.

Ada petunjuk singkat sesekali dan sindiran dalam bukunya lagi bekerja namun yang Avicenna dianggap filsafat sebagai satu-satunya cara yang masuk akal untuk membedakan nubuatan nyata dari ilusi. Dia tidak menyatakan ini lebih jelas karena implikasi politik dari teori semacam itu, jika nubuat bisa dipertanyakan, dan juga karena sebagian besar waktu ia menulis karya pendek yang berkonsentrasi pada menjelaskan teori-teorinya tentang filsafat dan teologi jelas, tanpa menyimpang ke mempertimbangkan hal-hal epistemologis yang hanya bisa dipertimbangkan oleh filsuf lain.

Kemudian interpretasi dari Avicenna filsafat dibagi menjadi tiga sekolah yang berbeda; mereka (seperti al-Tusi) yang terus menerapkan filosofinya sebagai sistem untuk menafsirkan peristiwa politik kemudian dan kemajuan ilmiah; mereka (seperti al-Razi) yang dianggap karya teologis Avicenna dalam isolasi dari keprihatinan filosofis yang lebih luas; dan mereka (seperti al-Ghazali) yang selektif digunakan bagian dari filsafat untuk mendukung upaya mereka sendiri untuk mendapatkan wawasan spiritual yang lebih besar melalui berbagai cara mistis. Itu interpretasi teologis diperjuangkan oleh orang-orang seperti al-Razi yang akhirnya datang untuk mendominasi di madrasah.

Avicenna menghafal Al Qur'an pada usia sepuluh, dan sebagai orang dewasa, ia menulis lima risalah mengomentari surah dari Al-Qur'an. Salah satu teks-teks ini termasuk Bukti Nubuat, di mana dia komentar pada beberapa ayat-ayat Alquran dan memegang Quran di harga tinggi. Avicenna berpendapat bahwa nabi Islam harus dianggap lebih tinggi dari filsuf.

eksperimen pikiran

Sementara ia dipenjarakan di kastil Fardajan dekat Hamadhan, Ibnu Sina menulis yang terkenal "Mengambang Man" nya - benar jatuh man - percobaan berpikir untuk menunjukkan manusia kesadaran diri dan kekukuhan dan tidak material jiwa. Ibnu Sina percaya nya "Mengambang Man" eksperimen pikiran menunjukkan bahwa jiwa adalah substansi, dan mengklaim manusia tidak dapat meragukan kesadaran mereka sendiri, bahkan dalam situasi yang mencegah semua input data sensorik. Pikiran percobaan kepada pembacanya untuk membayangkan diri mereka diciptakan sekaligus sementara ditangguhkan di udara, terisolasi dari semua sensasi, yang mencakup tidak ada kontak sensorik bahkan dengan tubuh mereka sendiri. Dia berargumen bahwa, dalam skenario ini, kita masih akan memiliki kesadaran diri. Karena dapat dibayangkan bahwa seseorang, ditangguhkan sementara udara terputus dari pengalaman rasa, masih akan mampu menentukan eksistensi sendiri, poin pemikiran percobaan untuk kesimpulan bahwa jiwa adalah kesempurnaan, independen dari tubuh dan immaterial zat. The conceivability ini "Mengambang Man" menunjukkan bahwa jiwa dianggap intelektual, yang mencakup keterpisahan jiwa dari tubuh. Avicenna disebut kecerdasan manusia hidup, terutama intelek aktif, yang ia percaya untuk menjadi hypostasis yang melaluinya Tuhan berkomunikasi kebenaran kepada pikiran manusia dan menanamkan ketertiban dan kejelasan dengan alam.

Karya Ibnu Sina

Jumlah karya yang ditulis Ibnu Sina (diperkirakan antara 100 sampai 250 buah judul). Kualitas karyanya yang bergitu luar biasa dan keterlibatannya dalam praktik kedokteran, mengajar, dan politik, menunjukkan tingkat kemampuan yang luar biasa. Beberapa Karyanya yang sangat terkenal di antara lain :
  • Qanun fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
  • Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  • An Najat
  • Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur)
Selain karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terkenal adalah :
  • Hayy ibn Yaqzhan
  • Risalah Ath-Thair
  • Risalah fi Sirr Al-Qadar
  • Risalah fi Al- 'Isyq
  • Tahshil As-Sa'adah
Dan beberapa Puisi terpentingnya yaitu :
  • Al-Urjuzah fi Ath-Thibb
  • Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah
  • Al-Qasidah Al- 'Ainiyyah
Sumber : Wikipedia

Al-Biruni

View Article
Gambar Sebuah rendisi imajiner Al Biruni pada cap pos Soviet 1973
Abū Rayḥān Muḥammad ibn Aḥmad Al-Bīrūnī ( Chorasmian / Persia : ابوریحان بیرونی Abū Rayḥān Bērōnī ; Persia Baru : Abū Rayḥān Bīrūnī ) (4 September 973  - 9 Desember 1048  ), yang dikenal sebagai Al-Biruni ( bahasa Arab : البيروني ) dalam bahasa Inggris,  adalah seorang ilmuwan Irandan polymath dari Khwarezm - sebuah wilayah yang mencakup zaman modern Uzbekistan barat, dan Turkmenistan utara.

Al-Biruni dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar era Islam Abad Pertengahan dan berpengalaman dalam bidang fisika , matematika , astronomi , dan ilmu pengetahuan alam , dan juga membedakan dirinya sebagai sejarawan , kronologi dan ahli bahasa .  Ia mempelajari hampir semua bidang sains dan mendapat kompensasi atas penelitian dan kerja kerasnya. Royalti dan anggota masyarakat yang kuat mencari Al-Biruni untuk melakukan penelitian dan studi untuk mengungkap temuan tertentu. Ia hidup selama Zaman Keemasan Islam , di mana pemikiran ilmiah bergandengan tangan dengan pemikiran dan metodologi agama Islam. Selain jenis pengaruh ini, Al-Biruni juga dipengaruhi oleh bangsa lain, seperti orang Yunani, yang ia mengambil inspirasi dari saat ia beralih ke studi filsafat.  Dia fasih berbahasa Khwarezmian , Persia , Arab , Sanskerta , dan juga mengenal bahasa Yunani , Ibrani dan Siria . Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ghazni di Afghanistan modern, ibukota dinasti Ghaznavid , yang berbasis di Afghanistan timur tengah. Pada 1017 ia melakukan perjalanan ke Asia Selatan dan menulis sebuah studi tentang kebudayaan India ( Tahqiq ma li-l-hind ... ) setelah menjelajahi Hinduisme yang dipraktekkan di India .Ia diberi gelar "pendiri Indologi ". Dia adalah seorang penulis yang tidak memihak tentang adat istiadat dan kepercayaan dari berbagai negara, dan diberi gelar al-Ustadh ("Master") untuk deskripsi yang luar biasa tentang India awal abad ke-11.  Dia juga memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan bumi , dan dianggap sebagai "bapak geodesi " atas kontribusinya yang penting ke bidang itu, bersamaan dengan kontribusinya yang signifikan terhadap geografi .

Hidup 

Dia lahir di distrik luar kota Kath , ibukota dinasti Afrighid Khwarezm (sekarang menjadi bagian dari Uzbekistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan  (atau Chorasmia).  Kata Biruni berarti "dari daerah luar" dalam bahasa Persia , dan ini menjadi nisba- nya: "al-Bīrūnī" = "orang Birunian".  Kerabat Al-Biruni juga menaruh minat pada studi sains juga, jadi dia tumbuh dalam lingkungan yang mendorong minatnya. Dia bahkan memiliki ikatan dengan bangsawan karena ada kaitan dalam keluarganya dengan keluarga elit bergengsi. Untuk melakukan penelitian, Al-Biruni menggunakan metode yang berbeda untuk mengatasi berbagai bidang yang ia pelajari. Banyak yang menganggap Al-Biruni sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam sejarah, dan khususnya Islam karena penemuan dan metodologinya. Dia hidup selama Zaman Keemasan Islam, yang mempromosikan astronomi dan mendorong semua ilmuwan untuk mengerjakan penelitian mereka. Al-Biruni menghabiskan dua puluh lima tahun hidupnya di Khwarezm di mana dia belajar yurisprudensi , teologi, tatabahasa, matematika , astronomi , kedokteran , filsafat dan juga berkecimpung di bidang fisika dan sebagian besar ilmu lainnya. Bahasa Khislzmi Iran , yang merupakan bahasa Biruni, bertahan selama beberapa abad setelah Islam sampai ke Turkifikasi wilayah ini, dan setidaknya sebagian dari budaya dan pengetahuan kuno Khwarezm , untuk Sulit untuk melihat sosok memerintah Biruni, sebuah gudang dari begitu banyak pengetahuan, muncul dalam kekosongan budaya.  Dia bersimpati kepada orang-orang yang tidak beriman , yang digulingkan oleh dinasti saingan Ma'munids pada tahun 995. Dia meninggalkan tanah airnya untuk Bukhara , lalu di bawah penguasa Samanid Mansur II putra Nuh. Di sana dia berhubungan dengan Avicenna  dan ada pertukaran pandangan yang masih ada antara kedua ilmuwan ini.

Pada tahun 998, dia pergi ke istana ziyarid amir di Tabaristan, Syams al-Mo'ali Abol-hasan Ghaboos ibn Wushmgir . Di sana ia menulis karya penting pertamanya, al-Athar al-Baqqiya 'al-Qorun al-Khaliyya (secara harfiah: "Jejak sisa abad-abad yang lalu" dan diterjemahkan sebagai "Kronologi bangsa-bangsa kuno" atau "Vestiges of the Past") pada kronologi sejarah dan ilmiah, mungkin sekitar tahun 1000 Masehi, meski kemudian dia membuat beberapa amandemen terhadap buku tersebut. Ia juga mengunjungi istana penguasa Bavandid Al-Marzuban . Menerima kematian yang pasti dari Kaum Muda di tangan kaum Ma'munids, dia berdamai dengan yang terakhir yang kemudian memerintah Khwarezm . Pengadilan mereka di Gorganj (juga di Khwarezm) semakin terkenal karena mengumpulkan ilmuwan cemerlang.

Pada 1017, Mahmud dari Ghazni membawa Rey. Sebagian besar ilmuwan, termasuk al-Biruni, dibawa ke Ghazni, ibukota dinasti Ghaznavid.  Biruni dijadikan astrolog istana  dan menemani Mahmud dalam invasi ke India, tinggal di sana selama beberapa tahun. Umurnya empat puluh empat tahun saat dia melakukan perjalanan dengan Mahmud dari Ghazni.  Biruni berkenalan dengan segala hal yang berhubungan dengan India. Dia bahkan mungkin telah belajar bahasa Sanskerta. Selama masa ini dia menulis studinya tentang India, menyelesaikannya sekitar tahun 1030. Seiring dengan tulisannya, Al-Biruni juga memastikan untuk memperpanjang studinya ke sains saat mengikuti ekspedisi. Dia berusaha menemukan metode untuk mengukur tinggi matahari, dan menciptakan versi awal astrolabe untuk tujuan itu.  Al-Biruni mampu membuat banyak kemajuan dalam studinya tentang perjalanan yang sering ia jalani di seluruh tanah India.

Matematika dan astronomi 

Gambar  Sebuah ilustrasi dari karya astronomi al-Biruni, menjelaskan berbagai fase bulan.Sembilan puluh lima dari 146 buku yang diketahui ditulis oleh Bīrūnī ditujukan untuk astronomi,
Gambar Diagram menggambarkan suatu metode yang diusulkan dan digunakan oleh Al-Biruni untuk memperkirakan jari-jari dan lingkar bumimatematika, dan mata pelajaran terkait seperti geografi matematika.  Agamanya berkontribusi terhadap penelitian astronomi, seperti dalam Islam, kebiasaan Muslim memerlukan mengetahui petunjuk dari lokasi suci tertentu, yang sebenarnya dapat ditemukan melalui jenis penelitian ilmiah ini. Karya besar Biruni tentang astrologi  terutama adalah teks astronomi dan matematis, hanya bab terakhir yang membahas prognostikasi astrologi. Dukungannya terhadap astrologi terbatas, sejauh dia mengutuk astrologi horor  sebagai 'sihir'.

Dalam membahas spekulasi oleh para penulis Muslim lainnya mengenai kemungkinan gerak Bumi,
Biruni mengakui bahwa dia tidak dapat membuktikan atau membantahnya, namun berkomentar dengan baik mengenai gagasan bahwa Bumi berputar.  Dia menulis sebuah komentar ekstensif mengenai astronomi India di Tahqiq ma li-l-hind , di mana dia mengklaim telah menyelesaikan masalah rotasi bumi dalam sebuah karya astronomi yang sudah tidak ada lagi, Miftah-ilm-alhai-nya. 'a (Kunci untuk Astronomi) :

Perputaran bumi sama sekali tidak mengganggu nilai astronomi, karena semua penampilan karakter astronomis dapat dijelaskan dengan baik sesuai teori ini terhadap teori astronomi lainnya. Namun, ada alasan lain yang membuat hal itu menjadi tidak mungkin. Pertanyaan ini paling sulit dipecahkan. Yang paling menonjol dari astronom modern dan kuno telah mempelajari dengan mendalam pertanyaan tentang pergerakan bumi, dan mencoba untuk menolaknya. Kami juga telah membuat sebuah buku tentang masalah yang disebut Miftah-ilm-alhai'a (Kunci untuk Astronomi) , di mana kami pikir kami telah melampaui pendahulu kami, jika tidak dalam kata-kata, pada semua kejadian dalam masalah ini.

Dalam uraian tentang astrolabe Sijzi, dia mengisyaratkan perdebatan kontemporer mengenai pergerakan bumi. Dia membawa sebuah korespondensi panjang dan kadang-kadang perdebatan sengit dengan Ibn Sina , di mana Biruni berulang kali menyerang fisika langit Aristoteles : dia berpendapat dengan eksperimen sederhana bahwa vakum harus ada;  dia "kagum" oleh kelemahan argumen Aristoteles terhadap orbit elips atas dasar bahwa mereka akan menciptakan kekosongan;  dia menyerang kekekalan ruang angkasa;  dan seterusnya.

Dalam karya astronomnya yang masih ada, Mas'ud Canon , Biruni menggunakan data pengamatannya untuk menolak apogee surya Ptolemy yang tidak bergerak. Ia tidak hanya melakukan penelitian pada teori, tapi dia juga menulis analisis dan penjelasan mendalam tentang astrolabe dan bagaimana seharusnya bekerja. Dia menggambar banyak penggambaran yang berbeda dari berbagai instrumen yang dianggap sebagai prekursor benda-benda modern seperti jam dan astrolabe, di mana ilmuwan lain dapat menggunakannya untuk menyelesaikan penemuan ini di tahun-tahun mendatang.  Baru-baru ini, data gerhana Biruni digunakan oleh Dunthorne pada tahun 1749 untuk membantu menentukan percepatan bulan dan data pengamatannya telah memasuki catatan sejarah astronomi yang lebih besar dan masih digunakan sampai sekarang di bidang geofisika dan astronomi.

Fisika 

Al-Biruni berkontribusi terhadap pengenalan metode ilmiah eksperimental terhadap mekanika , statika dan dinamika terpadu ke dalam ilmu mekanika, dan menggabungkan bidang hidrostatika dengan dinamika untuk menciptakan hidrodinamika .  Dia datang dengan metode yang berbeda untuk mengeksplorasi kepadatan, berat, dan bahkan gravitasi. Seiring dengan metode tersebut, Biruni melangkah lebih jauh untuk menggambarkan instrumen yang sesuai dengan masing-masing daerah tersebut. Meskipun dia tidak pernah sepenuhnya berfokus hanya pada fisika dalam salah satu bukunya, studi fisika hadir di banyak karya beragamnya. Biruni juga mengemukakan berbagai hipotesis tentang panas dan cahaya.

Geografi 

Gambar  Empat arah dan pembagian politik Iran oleh Abū Rayḥān al-BīrūnīEmpat arah dan pembagian politik Iran oleh Abū Rayḥān al-Bīrūnī
Bīrūnī juga merancang metode sendiri untuk menentukan jari-jari bumi dengan cara mengamati tinggi gunung dan membawanya keluar di Nandana di Pind Dadan Khan di Pakistan .  Dia sangat tertarik pada cara kerja bumi dan termasuk penelitian tentang planet ini dalam banyak karyanya. Hasil penemuan pengukuran radiusnya disebabkan oleh penelitian berat Biruni tentang bumi.

Dalam bukunya Codex Masudicus (1037), Al-Biruni berteori keberadaan daratan di sepanjang samudra luas antara Asia dan Eropa , atau yang sekarang dikenal sebagai Benua Amerika . Dia menyimpulkan keberadaannya berdasarkan perkiraan akurat tentang lingkar bumi dan ukuran Afro-Eurasia , yang ia temukan hanya berkisar dua per lima keliling Bumi, dan penemuannya tentang konsep gravitasi spesifik , yang darinya dia menyimpulkan bahwa proses geologi yang memunculkan Eurasia pasti juga melahirkan di samudra luas antara Asia dan Eropa. Dia juga berteori bahwa daratan harus dihuni oleh manusia, yang ia deduksikan dari pengetahuannya tentang manusia yang mendiami band utara-selatan yang luas yang membentang dari Rusia ke India Selatan dan Afrika Sub-Sahara , dengan berteori bahwa daratan kemungkinan besar terletak di sepanjang band yang sama

Farmakologi dan mineralogi

Karya Biruni yang paling penting adalah farmakope besar, "Kitab al-saydala fi al-tibb" (Buku tentang Farmakope Obat), yang pada intinya menjelaskan semua obat yang diketahui pada masanya. Ini mencantumkan nama samaran untuk nama obat-obatan di Syria, Persia, Yunani, Baluchi, Afghanistan, Kurdi, dan beberapa bahasa India.

Karena peralatan yang dia bangun sendiri, dia berhasil menentukan berat jenis sejumlah logam dan mineral dengan presisi yang luar biasa.

Sejarah dan kronologi 

Esai utama Biruni mengenai sejarah politik, Kitāb al-musāmara fī aḵbār Ḵᵛārazm (Buku percakapan malam tentang urusan Ḵᵛārazm) sekarang hanya diketahui dari kutipan di Tārīkh-e mas'ūd in Bayhaqī. Selain berbagai diskusi tentang kejadian dan metodologi sejarah ini ditemukan sehubungan dengan daftar raja-raja di al-Āthār al-bāqiya dan di Qānūn serta di tempat lain di Āthār, di India, dan tersebar di seluruh karya lainnya.  Studi sejarah Al-Biruni tidak terbatas pada topik-topik yang disebutkan di atas, dia juga menyentuh topik penciptaan bumi. Dia menjelaskan fakta bahwa bumi diciptakan dari unsur-unsur dan bukan semata-mata melalui ciptaan ilahi. Meskipun Islam memang memengaruhi studinya, dia mengakui peran elemen tersebut.

Kontribusi dalam Menyelesaikan Teka-Teki Alkitabiah Perjamuan Terakhir

Al Bairuni kurang dikreditkan atas kontribusinya yang terbesar dalam menyelesaikan pertanyaan paling kejam tentang beasiswa biblika. Perbedaan antara Sinoptik dan Injil Yohanes tidak mendapat jawaban sampai Anne Jaubert mengemukakan 'hipotesis Jaubert' dalam bukunya, "la date de la cène" pada tahun 1958. Dia mengumpulkan fakta bahwa Yesus dan murid-muridnya mungkin menggunakan kalender Kitab Jubilee yaitu Essenes Calendar dari DSS. Gagasan itu dipecahkan dari buku Al-Bairuni 'Kitab al Makalaat' di mana dia menyoroti bahwa orang-orang di dekat gua tersebut menggunakan kalender yang berbeda  . Penemuan dan penjajaran ini akhirnya menyelesaikan teka-teki beasiswa biblikal ini.

Sejarah Agama 

Bīrūnī adalah salah satu otoritas Muslim yang paling penting dalam sejarah agama. Al-Biruni adalah pelopor dalam studi perbandingan agama. Dia belajar Zoroastrianisme , Yudaisme , Hinduisme , Kristen , Budhisme , Islam , dan agama-agama lain. Dia memperlakukan agama secara obyektif, berusaha untuk memahami mereka dengan cara mereka sendiri daripada mencoba membuktikan kesalahan mereka. Konsep dasarnya adalah bahwa semua budaya setidaknya merupakan kerabat jauh dari semua budaya lain karena semuanya adalah konstruksi manusia. "Apa yang al-Biruni nampaknya diperdebatkan adalah bahwa ada unsur manusia biasa dalam setiap kebudayaan yang membuat semua budaya menjadi kerabat jauh, betapapun asingnya mereka tampaknya satu sama lain."

Al-Biruni membagi umat Hindu ke dalam kelas berpendidikan dan tidak berpendidikan. Dia menggambarkan orang berpendidikan sebagai monoteistik, percaya bahwa Tuhan itu satu, abadi, dan mahakuasa dan menghindari segala bentuk penyembahan berhala. Dia mengakui bahwa umat Hindu yang tidak berpendidikan banyak menyembah berhala namun menunjukkan bahwa bahkan beberapa Muslim (seperti Jabiriyya) telah mengadopsi konsep antropomorfis tentang Tuhan.

Antropologi 

Al-Biruni menulis tentang orang-orang, adat istiadat dan agama di anak benua India. Menurut Akbar S. Ahmed, seperti antropolog modern, dia terlibat dalam observasi partisipan yang luas dengan sekelompok orang tertentu, belajar bahasa mereka dan mempelajari teks utama mereka, mempresentasikan temuannya dengan objektivitas dan netralitas dengan menggunakan perbandingan lintas budaya. Akhbar S. Ahmed menyimpulkan bahwa Al-Biruni dapat dianggap sebagai Antropolog pertama, Namun, yang lain berpendapat bahwa dia hampir tidak dapat dianggap sebagai antropolog dalam pengertian konvensional.

Indologi 

Ketenaran Bīrūn sebagai indologis terletak pada dua teks.  Al-Biruni menulis sebuah karya ensiklopedi tentang India yang disebut Taḥqīq mā li-l-hind min maqūlah maqbūlah fī al-'aql aw mardhūlah (diterjemahkan secara beragam sebagai "Memeriksa Semua yang diulang orang India, yang masuk akal dan yang tidak masuk akal" atau "Buku yang mengkonfirmasikan apa yang berhubungan dengan India, apakah rasional atau tercela"  ) di mana ia menjelajahi hampir semua aspek kehidupan India, termasuk agama, sejarah, geografi, geologi, sains, dan matematika. Selama perjalanannya melalui India, sejarah militer dan politik bukan fokus utama Al-Biruni. Sebagai gantinya, dia memutuskan untuk mendokumentasikan lebih banyak bidang agama dan agama Hindu seperti budaya, sains, dan agama. Dia mengeksplorasi agama dalam konteks budaya yang kaya.  Dia mengungkapkan tujuannya dengan kefasihan sederhana:

Saya tidak akan menghasilkan argumen antagonis kita untuk menyangkal hal tersebut, karena saya yakin salah. Buku saya tidak lain adalah catatan fakta sejarah yang sederhana. Saya akan menempatkan di depan pembaca teori-teori orang Hindu persis seperti mereka, dan saya akan menyebutkan sehubungan dengan mereka teori serupa tentang orang-orang Yunani untuk menunjukkan hubungan yang ada di antara mereka. (1910, Vol 1, hal 7, 1958, hal 5)

Contoh analisis Al-Biruni adalah rangkumannya mengapa banyak umat Hindu membenci Muslim. Biruni mencatat di awal bukunya bagaimana umat Islam mengalami kesulitan belajar tentang pengetahuan dan budaya Hindu.  Dia menjelaskan bahwa Hinduisme dan Islam sangat berbeda satu sama lain. Selain itu, orang Hindu di abad ke-11 India telah menderita gelombang serangan destruktif di banyak kota-kotanya, dan tentara Islam telah membawa banyak budak Hindu ke Persia, yang - mengklaim Al-Biruni - memberi kontribusi kepada orang-orang Hindu untuk mencurigai semua orang asing, tidak hanya Muslim. Orang Hindu menganggap Muslim kasar dan tidak murni, dan tidak ingin berbagi apapun dengan mereka. Seiring waktu, Al-Biruni memenangkan sambutan para ilmuwan Hindu. Al-Biruni mengumpulkan buku-buku dan belajar dengan para ilmuwan Hindu untuk menjadi fasih dalam bahasa Sanskerta, menemukan dan menerjemahkan ke dalam bahasa Arab matematika, sains, kedokteran, astronomi dan bidang seni lainnya seperti yang dipraktikkan di India abad ke-11. Dia terinspirasi oleh argumen yang diajukan oleh ilmuwan India yang percaya bahwa bumi harus berbentuk bulat, yang merupakan satu-satunya cara untuk benar-benar menjelaskan perbedaan di siang hari oleh garis lintang, musim dan posisi relatif bumi dengan bulan dan bintang.  Pada saat yang sama, Al-Biruni juga kritis terhadap ahli-ahli Taurat India yang dia percaya dengan sembarangan merusak dokumen-dokumen India sembari membuat salinan dokumen yang lebih tua. Dia juga mengkritik orang-orang Hindu tentang apa yang dia lihat dan lakukan, seperti kekurangan mereka dalam keingintahuan tentang sejarah dan agama.  Terjemahan Al-Biruni serta sumbangan pribadinya sendiri mencapai Eropa pada abad ke-12 dan 13, di mana mereka secara aktif dicari.

Salah satu aspek spesifik kehidupan Hindu yang dipelajari Al-Biruni adalah kalender Hindu. Beasiswanya pada topik tersebut menunjukkan tekad dan fokus yang besar, belum lagi keunggulan dalam pendekatannya terhadap penelitian mendalam yang dia lakukan. Dia mengembangkan sebuah metode untuk mengubah tanggal kalender Hindu ke tanggal dari tiga kalender yang berbeda yang umum terjadi di negara-negara Islam pada masa jasanya, bahasa Yunani, Arab / Muslim, dan Persia. Biruni juga menggunakan astronomi dalam menentukan teorinya, yang merupakan persamaan matematis dan perhitungan ilmiah yang rumit yang memungkinkan seseorang untuk mengubah kurun waktu dan tahun antara kalender yang berbeda.

Buku tersebut tidak membatasi catatan pertempuran yang membosankan karena Al-Biruni menganggap budaya sosial lebih penting. Pekerjaan tersebut mencakup penelitian tentang beragam topik budaya India, termasuk deskripsi tentang tradisi dan kebiasaan mereka. Meskipun ia mencoba untuk menjauh dari sejarah politik dan militer, Biruni memang mencatat tanggal penting dan mencatat lokasi sebenarnya dimana pertempuran signifikan terjadi. Selain itu, dia mencatat kisah-kisah penguasa India dan menceritakan bagaimana mereka memerintah rakyat mereka dengan tindakan menguntungkan mereka dan bertindak untuk kepentingan negara. Tapi, detilnya singkat dan kebanyakan hanya mencantumkan penguasa tanpa menyebut nama asli mereka. Dia tidak membahas tentang perbuatan yang dilakukan masing-masing selama masa pemerintahan mereka, yang tetap sejalan dengan misi Al-Biruni untuk mencoba menjauh dari sejarah politik. Al-Biruni juga menggambarkan geografi India dalam karyanya. Dia mendokumentasikan berbagai jenis air dan fenomena alam lainnya. Deskripsi ini bermanfaat bagi sejarawan modern saat ini karena mereka dapat menggunakan beasiswa Biruni untuk menemukan tujuan tertentu di India modern. Sejarawan dapat membuat beberapa kecocokan sementara juga menyimpulkan bahwa daerah tertentu tampaknya telah lenyap dan telah diganti dengan kota yang berbeda. Benteng dan tengara yang berbeda dapat ditemukan, melegitimasi sumbangan Al-Biruni dengan kegunaannya bahkan sejarah modern dan arkeologi.

Laporan yang tidak memihak tentang Hinduisme yang diberikan oleh Al-Biruni sungguh luar biasa untuk sementara waktu. Dia menyatakan bahwa dia sepenuhnya obyektif dalam wrenda-nya, tetap tidak bias seperti sejarawan sejati. Biruni mendokumentasikan segala sesuatu tentang India seperti yang terjadi. Tapi, dia mencatat bagaimana beberapa informasi tentang informasi yang dia berikan dari penduduk asli negeri mungkin tidak dapat diandalkan dalam hal akurasi yang lengkap, namun dia berusaha untuk bersikap sejujur ​​mungkin dalam tulisannya.  Mohammad Yasin membandingkannya dengan "pulau ajaib penelitian yang tenang dan tidak memihak di tengah dunia yang bertabrakan pedang, kota yang terbakar, dan kuil yang dijarah."

Tulisan Biruni sangat puitis, yang bisa mengurangi sebagian nilai historis karya untuk zaman modern. Kurangnya deskripsi pertempuran dan politik membuat bagian-bagian gambar itu benar-benar hilang. Namun, banyak yang telah menggunakan karya Al-Biruni untuk memeriksa fakta sejarah dalam karya lain yang mungkin telah ambigu atau validitasnya dipertanyakan.

Pekerjaan 

Al Biruni adalah penulis buku Kitab ~ ul ~ Hind. Sebagian besar karya Al-Biruni berbahasa Arab meskipun dia menulis salah satu karya besarnya, Kitab al-Tafhim tampaknya berbahasa Persia dan Arab, menunjukkan penguasaannya atas kedua bahasa tersebut.  Katalog Bīrūn catalog tentang produksi sastranya sendiri sampai tahun ke 65 nya yang ke 65/63 (akhir 427/1036) mencantumkan 103 judul yang terbagi dalam 12 kategori: astronomi, geografi matematis, matematika, aspek astrologi dan transit, instrumen astronomi, kronologi, komet, kategori tanpa judul, astrologi, anekdot, agama, dan buku yang tidak lagi dimilikinya.  Karya-Nya yang masih ada meliputi:
  • Studi kritis tentang apa yang dikatakan India, apakah diterima oleh akal atau ditolak ( menolak ) atau dikenal sebagai Indica - sebuah ringkasan dari agama dan filsafat India
  • Buku Instruksi dalam Unsur Seni Astrologi ( Kitab al-tafhim li-awa'il sina'at al-tanjim ).
  • Tanda-Tanda yang Tersisa dari Berabad-abad yang lalu (Arab الآثار الباقية عن القرون الخالية) - sebuah studi perbandingan tentang kalender dari berbagai budaya dan peradaban, saling terkait dengan informasi matematika, astronomi, dan sejarah.
  • Mas'udi Canon (Persia قانون مسعودي) - sebuah ensiklopedia yang luas mengenai astronomi, geografi, dan teknik, dinamai Mas'ud, putra Mahmud dari Ghazni , yang dia dedikasikan.
  • Memahami Astrologi (Arabic التفهيم لصناعة التنجيم) - sebuah buku pertanyaan dan jawaban tentang matematika dan astronomi, dalam bahasa Arab dan Persia.
  • Apotek - tentang obat-obatan dan obat-obatan.
  • Gems (Arabic الجماهر في معرفة الجواهر) tentang geologi, mineral, dan permata, didedikasikan untuk Mawdud putra Mas'ud.
  • Astrolabe .
  • Buku ringkasan sejarah
  • Sejarah Mahmud dari Ghazni dan ayahnya .
  • Sejarah Khawarezm .
Karya Persia

Biruni menulis sebagian besar karyanya dalam bahasa Arab, sebagai bahasa ilmiah usianya, namun versi Persia dari Al-Tafhim  adalah salah satu karya sains awal yang paling penting dalam bahasa Persia , dan merupakan sebuah sumber yang kaya untuk prosa dan leksikografi Persia.  Buku ini mencakup Quadrivium dengan cara yang rinci dan terampil.

Sumber : Wikipedia